Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kopi Pahit

Melesatkan Ekonomi Indonesia

Di saat banyak pihak menuding ketidakpastian global sebagai biang keladi, ia dengan tegas menyatakan bahwa masalah utama ekonomi Indonesia bersumber dari kebijakan domestik yang keliru.

Pada Agustus 2025 Indonesia sedang berada di tubir jurang. Di jalanan, demonstrasi berkobar. Di ruang-ruang diskusi, pesimisme merajalela. Indeks kepercayaan publik terhadap pemerintah anjlok ke “level bahaya”. Di tengah suramnya harapan dan ekonomi yang terasa “dicekik”, tampuk kepemimpinan keuangan negara diserahkan kepada sosok yang tak terduga. Ia bukanlah birokrat karier dari labirin ekonomi konvensional. Ia adalah Purbaya Yudhi Sadewa, seorang insinyur elektro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pernah bertaruh nyawa lima tahun di ladang minyak Schlumberger.

Jalannya menuju gelar doktor ekonomi di Purdue University, Amerika Serikat, pun lahir dari sebuah ultimatum unik: “terpaksa” demi memenuhi syarat menikahi sang istri tercinta. Latar belakangnya yang tak biasa seolah menjadi pertanda. Untuk penyakit ekonomi yang kronis, ia tidak datang membawa obat generik, melainkan sebuah resep terapi kejut yang radikal. Dalam hitungan hari setelah menjabat, ia meluncurkan kebijakan pertamanya yang berani: mengguyur sistem keuangan dengan likuiditas masif. Apa yang ia lihat dan orang lain tidak? Jawabannya terletak pada diagnosisnya yang tajam dan menantang tentang penyakit yang sebenarnya menjangkiti ekonomi Indonesia.

Diagnosis Sang Menteri: Masalahnya Bukan di Global, Tapi di Dapur Sendiri

Sebelum meracik obat, seorang dokter harus tahu pasti sumber penyakitnya. Purbaya menawarkan diagnosis yang menantang narasi umum. Di saat banyak pihak menuding ketidakpastian global sebagai biang keladi, ia dengan tegas menyatakan bahwa masalah utama ekonomi Indonesia bersumber dari kebijakan domestik yang keliru. “Enggak ada urusan sama ketidakpastian global,” ujarnya.

Filosofi ekonominya berakar kuat pada pemikiran pemenang Nobel, Milton Friedman, yang gagasannya ia pegang teguh setelah mempelajari bencana krisis 1997-1998. Kala itu, Indonesia menjalankan kebijakan yang bertentangan: suku bunga dinaikkan hingga 60% untuk mencekik sektor riil, namun pada saat yang sama, uang primer (M0) dicetak gila-gilaan hingga tumbuh lebih dari 100%. Kombinasi racun ini, menurutnya, telah “melepaskan setan-setan” yang menghancurkan rupiah dan memicu inflasi tak terkendali.

Pelajaran pahit itu menajamkan lensanya. Kesehatan moneter, baginya, tidak bisa diukur hanya dari suku bunga. Indikator krusialnya adalah laju pertumbuhan uang primer (M0). Selama berbulan-bulan sebelum ia menjabat, pertumbuhan M0 Indonesia mendekati nol. Ia menggambarkannya seolah “ekonomi dicekik”. Meskipun Bank Indonesia (BI) melaporkan likuiditas perbankan melimpah, Purbaya melihat fakta lain. Likuiditas itu hanya menumpuk di rekening BI, sementara sistem perbankan dan ekonomi riil justru “kering kerontang”. Pengereman inilah, menurutnya, akar dari keresahan sosial. Masyarakat turun ke jalan bukan semata karena isu politik, melainkan karena “perut mereka mulai sakit” akibat sistem ekonomi yang kehabisan darah.

Terapi Kejut: Mengguyur Sistem dengan Ratusan Triliun Rupiah

Diagnosis tajam itu menuntut terapi yang sama beraninya. Langkah Purbaya bukanlah sekadar menyiram api dengan bensin; ini adalah operasi bedah jantung yang presisi, dirancang untuk menyetrum kembali sistem keuangan yang sekarat dan membalik ekspektasi pasar dari pesimisme ekstrem menjadi optimisme.

Kebijakan utamanya sederhana namun berdampak besar: memindahkan uang pemerintah sebesar Rp200 triliun dari rekeningnya yang “menganggur” di Bank Indonesia langsung ke sistem perbankan. Ini bukan belanja anggaran baru. “Uangnya enggak dipakai. Saya cuma pindahin uang saya dari BI ke perbankan. Titik,” jelasnya.

Langkah ini dirancang untuk menciptakan efek domino yang positif di seluruh sistem keuangan:

  1. Mendorong Bank Menyalurkan Kredit: Dengan dana likuiditas melimpah yang tiba-tiba masuk, bank didorong untuk segera menyalurkannya sebagai kredit. Jika tidak, mereka akan merugi karena harus membayar bunga kepada pemerintah atas dana yang mengendap.
  2. Menurunkan Suku Bunga Pasar: Melimpahnya likuiditas secara otomatis akan menekan turun suku bunga di pasar antarbank, membuat biaya pinjaman menjadi lebih murah dan mendorong aktivitas ekonomi.
  3. Meningkatkan Pertumbuhan Uang (M0): Targetnya jelas dan terukur: mendorong pertumbuhan M0 hingga mencapai double digit, idealnya “mendekati 20% atau lebih.” Purbaya secara aktif memonitor angka ini. Ketika pertumbuhan melambat, ia tak segan menyuntikkan dana tambahan, seperti yang dilakukannya dengan menggelontorkan Rp76 triliun berikutnya.

Hasilnya langsung terasa. Data survei Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang ia kutip menunjukkan indeks kepercayaan masyarakat kepada pemerintah, yang sempat jatuh, telah pulih. Namun, terapi kejut ini hanyalah langkah awal, ibarat menyalakan busi sebelum dua mesin raksasa ekonomi Indonesia dinyalakan serentak.

Strategi Jangka Panjang: Menyalakan Dua Mesin Ekonomi Menuju Pertumbuhan 8%

Solusi jangka pendek tak akan berarti tanpa visi jangka panjang yang kokoh. Purbaya mengusung konsep menyalakan “dua mesin” ekonomi yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Ia membandingkan dua era pemerintahan sebelumnya untuk menjelaskan strateginya.

Era PemerintahanKarakteristik UtamaPertumbuhan Ekonomi Rata-rata
Era SBYDigerakkan oleh sektor swasta, pemerintah lebih santaiSekitar 6%
Era JokowiDigerakkan oleh belanja pemerintah, swasta melambatSekitar 5%

Perbedaan ini juga tercermin pada rasio pajak. Di era SBY, ketika swasta menjadi motor utama, rasio pajak mencapai 12%. Di era Jokowi, angkanya turun ke kisaran 10%. Strategi Purbaya adalah menggabungkan kekuatan keduanya: menghidupkan kembali mesin swasta melalui kebijakan moneter yang longgar, sambil memastikan mesin belanja pemerintah (pusat dan daerah) tetap aktif. Dengan menyalakan kedua mesin ini, ia yakin target pertumbuhan 6,5% dapat dicapai tanpa mengubah struktur ekonomi secara drastis.

Namun, untuk melompat ke target ambisius 8%, Indonesia mutlak memerlukan Penanaman Modal Asing (PMA) skala besar. Kuncinya satu kata: “Debottlenecking”. Ini bukan sekadar teori. Purbaya adalah wakil ketua tim debottlenecking pada periode 2016-2019, sebuah satgas yang berhasil menyelesaikan 193 dari 300 kasus investasi macet dengan total nilai mencapai Rp830 triliun.

Pengalaman itulah yang menjadi cetak biru rencananya: membentuk kembali satgas khusus yang akan “menyidangkan” keluhan pengusaha dan menuntaskan sumbatan regulasi. Ia telah membuktikan efektivitas pendekatan ini. Ketika Hyundai hendak berinvestasi, Purbaya “menjaga” mereka, memanggil semua kementerian terkait ke kantornya hingga seluruh urusan tuntas dalam empat bulan. Kisah paling dramatis adalah saat ia bernegosiasi dengan Pegatron, produsen iPhone. Ketika ditanya insentif apa yang ditawarkan negara pesaing, Purbaya tidak menawar. “Saya kasih semua yang Anda minta,” ujarnya. Seminggu kemudian, Pegatron memutuskan pindah ke Batam.

Visi Masa Depan: Investasi pada Otak Manusia dan Infrastruktur Berkelanjutan

Pertumbuhan 8% hanyalah angka hampa jika tidak ditopang fondasi sumber daya manusia yang unggul. Di sinilah visi Purbaya melampaui neraca fiskal. Ia menyoroti data perbandingan yang mengkhawatirkan:

  1. Indonesia hanya menghasilkan 250.000 lulusan STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) per tahun. Tiongkok? 4,5 juta.
  2. Jumlah mahasiswa doktoral (Ph.D.) asal Indonesia di Amerika Serikat hanya 80-an orang, tertinggal jauh dari Tiongkok (6.000) dan India (2.000-an).

Tantangannya adalah lingkaran setan: industri dalam negeri belum cukup berkembang untuk menyerap talenta STEM, sehingga calon mahasiswa enggan mengambil risiko. Sebagai seorang insinyur yang banting setir ke ekonomi, Purbaya paham betul simpul ini. Maka, seluruh strategi ekonominya—mendorong pertumbuhan ke 6,5% dan menarik PMA lewat debottlenecking—pada hakikatnya dirancang untuk menciptakan permintaan bagi para insinyur dan ilmuwan yang saat ini masih kurang terserap.

Sejalan dengan itu, ia mendukung visi besar Presiden Prabowo Subianto: membangun 7.000 sekolah terintegrasi di seluruh Indonesia. Proyek raksasa yang diperkirakan menelan biaya “1.000 triliun lebih” ini akan dimulai secara bertahap, diawali dengan pilot project pembangunan 40 sekolah senilai Rp12 triliun. Sekolah-sekolah ini akan diisi guru-guru berkualitas dengan gaji yang layak, sebuah investasi pada otak manusia untuk memastikan kemakmuran jangka panjang.

Dari kebijakan moneter yang terinspirasi pelajaran krisis 1998, strategi dua mesin ekonomi, hingga investasi masif pada pendidikan, resep Purbaya Sadewa adalah sebuah narasi besar yang saling terhubung. Perjalanannya dimulai dari upaya menyembuhkan ekonomi yang nyaris sekarat, dilanjutkan dengan merancang fondasi yang kokoh, hingga menanam benih untuk lompatan kemakmuran di masa depan.

Target pertumbuhan 8% memang terdengar sangat ambisius, tetapi Purbaya meyakini itu bukan hal yang mustahil. Kuncinya adalah menjalankan semua kebijakan yang tepat secara konsisten, membereskan sumbatan-sumbatan yang ada, dan berani berinvestasi pada hal yang paling fundamental: otak manusia.

Seperti pesan yang ia sampaikan dengan penuh keyakinan, nasib bangsa ini tidak ditentukan oleh gejolak di luar sana, melainkan oleh langkah-langkah yang diambil di dalam negeri. “Masa depan kita di tangan kita sendiri. Kita yang menentukan mau jadi kaya atau miskin.” Sebuah optimisme yang kini coba ia tularkan kepada 280 juta rakyat Indonesia.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

India, melalui Kebijakan Pendidikan Nasional 2020, tampak lebih progresif dalam memperkenalkan perubahan yang berorientasi pada pengembangan holistik dan berbasis pengalaman.

Sosok

Ririek Adriansyah adalah contoh nyata dari seseorang yang bangkit dari kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan. Dari pemungut puntung rokok hingga memimpin Telkom Indonesia, perjalanan...

Ragam

Jumlah responden 1.200 orang dianggap cukup untuk mewakili berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, baik dari segi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lokasi

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...