Monitorday.com – Presiden Prabowo Subianto pada hari Rabu menyatakan bahwa Indonesia berpotensi menyita tambahan 4 hingga 5 juta hektare perkebunan kelapa sawit dalam waktu dekat. Pernyataan ini menyusul upaya gugus tugas yang dipimpinnya, yang telah mengambil alih 4,1 juta hektare lahan yang beroperasi secara ilegal di kawasan hutan pada tahun sebelumnya.
Langkah masif ini, yang melibatkan militer, kepolisian, dan jaksa negara, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan industri kelapa sawit. Para analis memprediksi bahwa pengambilalihan lahan ini, dikombinasikan dengan rencana ambisius Indonesia terkait biodiesel, dapat menyebabkan tekanan lebih lanjut terhadap harga global akibat gangguan produksi.
Saat berbicara dalam upacara panen padi bersama petani, Prabowo mengatakan, “Kami sudah menguasai, sudah mengambil alih 4 juta hektare perkebunan kelapa sawit yang melanggar hukum. Bukankah begitu Jaksa Agung?”
Mengenai target ke depan, ia menambahkan, “Pada tahun 2026 mungkin kita akan menyita 4 atau 5 juta lagi.”
Indonesia, sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia, memiliki total 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit. Kampanye yang didukung militer ini diluncurkan pada awal tahun 2025, dan dari lahan yang disita, sekitar 1,7 juta hektare telah dialihkan kepada perusahaan milik negara, Agrinas Palma Nusantara, mengubah perusahaan tersebut menjadi perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia berdasarkan luas area.
Sementara itu, Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin bulan lalu mengungkapkan bahwa pemerintah dapat mengumpulkan denda sebesar US$6,5 miliar dari perusahaan-perusahaan kelapa sawit yang terbukti terlibat dalam penyitaan tahun lalu.





















