Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ragam

Panda China Simbol Bangsa Pemicu Kontroversi

Panda raksasa jadi ikon nasional & alat diplomasi China. Popularitasnya memicu dilema: soft power vs proteksi publik. Protes pengiriman & pengawasan breeding menekan peneliti.

Monitorday.com –

Fenomena “pandamonium” tengah melanda Tiongkok, di mana panda raksasa telah bertransformasi dari hewan yang kurang dikenal menjadi ikon budaya, simbol nasional, dan alat diplomasi yang kuat. Popularitas luar biasa seekor panda bernama Hua Hua di Chengdu menyoroti keberhasilan upaya puluhan tahun pemerintah Tiongkok dalam memposisikan panda sebagai “harta nasional” yang dicintai jutaan orang, bahkan menarik puluhan ribu pengunjung setiap harinya ke penangkaran Chengdu Panda Base.

Namun, kesuksesan rebranding ini telah menciptakan tantangan tak terduga bagi Beijing. Pemerintah kini menghadapi dilema dalam menyeimbangkan penggunaan panda sebagai kekuatan lunak (soft power) di kancah internasional dengan tuntutan publik yang sangat protektif terhadap hewan tersebut. Sentimen ini memicu protes terhadap pengiriman panda ke negara-negara asing serta pengawasan ketat terhadap program penangkaran dan perawatan panda di dalam negeri, bahkan mengancam pekerjaan para peneliti dan ahli konservasi.

Rasa kepemilikan dan kebanggaan terhadap panda sangat mendalam di masyarakat Tiongkok. “Ini adalah simbol Tiongkok. Semua orang Tiongkok ingin melihatnya secara langsung,” ujar seorang pengunjung yang menempuh perjalanan 1.300 kilometer ke Chengdu dan mengantre sejak pukul 6 pagi untuk menyaksikan panda.

Sentimen protektif ini seringkali bermanifestasi dalam penolakan terhadap diplomasi panda. Beberapa kelompok, termasuk influencer daring, menentang pengiriman panda ke negara-negara yang dianggap “tidak ramah” seperti Amerika Serikat, khawatir akan perlakuan buruk terhadap “harta nasional” mereka. “Mereka percaya bahwa mereka sangat patriotik,” kata salah satu jurnalis lokal yang meliput fenomena ini, merujuk pada para pengunjuk rasa.

Intensitas pengawasan publik juga meluas ke program penangkaran panda di Tiongkok, khususnya teknik pengembangbiakan buatan. Metode seperti elektroejakulasi, meskipun umum, menuai kritik pedas dari beberapa advokat panda, menekan para ilmuwan yang terlibat. Wang Donghui, seorang ilmuwan di Chengdu Base yang mengembangkan teknik pembekuan semen panda, kini menghindari diskusi tentang topik tersebut. “Kami telah diserang,” ia menjelaskan.

Kekhawatiran terhadap pelecehan daring dan telepon telah menciptakan suasana tegang di kalangan staf pusat penangkaran panda, bahkan membuat beberapa ahli menganggap profesi mereka sebagai “industri berisiko tinggi.” Hou Rong, peneliti utama dan wakil direktur Chengdu Base, menyatakan kepada People’s Daily yang dikelola negara, “Intensitas pelecehan daring telah menyulitkan beberapa ahli untuk menjalankan pekerjaan penelitian mereka dengan baik.”

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

India, melalui Kebijakan Pendidikan Nasional 2020, tampak lebih progresif dalam memperkenalkan perubahan yang berorientasi pada pengembangan holistik dan berbasis pengalaman.

Sosok

Ririek Adriansyah adalah contoh nyata dari seseorang yang bangkit dari kesulitan untuk mencapai puncak kesuksesan. Dari pemungut puntung rokok hingga memimpin Telkom Indonesia, perjalanan...

Ragam

Jumlah responden 1.200 orang dianggap cukup untuk mewakili berbagai kelompok masyarakat di Indonesia, baik dari segi usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lokasi

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...