Mondayreview.com -Tahun 2025 disebut sebagai titik balik perkembangan kecerdasan buatan global dengan hadirnya sistem agentic AI, yakni AI yang tidak sekadar menjawab perintah, tetapi mampu menalar, mencari informasi, menggunakan alat, serta merencanakan tindakan ke depan. Perkembangan ini menandai lompatan besar sejak kemunculan ChatGPT pada 2022 yang pertama kali menyadarkan dunia akan potensi AI generatif.
Menurut Jensen Huang, CEO NVIDIA, perubahan besar tersebut dipicu oleh lahirnya reasoning models seperti o1 dan DeepSeek R1 yang mengadopsi pendekatan test time scaling. Dalam model ini, AI tidak langsung memberi jawaban, melainkan “berpikir” secara real-time untuk mensimulasikan berbagai kemungkinan sebelum mengambil keputusan. Pernyataan ini disampaikan Jensen dalam berbagai forum teknologi global, sebagaimana dikutip dari media teknologi internasional.
Ia menjelaskan, agentic AI kini memiliki lima kemampuan utama: menalar, melakukan pencarian informasi, menggunakan alat digital, merencanakan masa depan, serta mensimulasikan hasil untuk memecahkan persoalan kompleks. NVIDIA sendiri, menurut Jensen, telah meninggalkan pola pemrograman perangkat lunak tradisional dan beralih pada pendekatan pelatihan sistem AI secara menyeluruh.
Salah satu tren terkuat dalam fase ini adalah ledakan model terbuka (open models). Jensen secara khusus menyoroti kemunculan DeepSeek R1 sebagai model terbuka pertama dengan sistem penalaran canggih yang memicu gelombang inovasi global. Menurutnya, model terbuka memungkinkan kolaborasi lintas negara dan mempercepat adopsi AI di berbagai sektor industri.
Sebagai bentuk komitmen, NVIDIA menghadirkan AI Blueprints, yakni kerangka kerja siap pakai bagi perusahaan untuk membangun asisten AI mereka sendiri. Ke depan, aplikasi AI tidak lagi berbentuk satu model tunggal, melainkan menggunakan arsitektur router cerdas yang mengarahkan permintaan ke model paling sesuai—baik model frontier untuk tugas berat maupun model lokal yang lebih kecil dan privat untuk data sensitif.
Dengan arsitektur ini, Jensen memprediksi akan lahir asisten digital terpadu yang mampu mengelola kalender, mengirim email, hingga mengendalikan robot fisik melalui satu antarmuka percakapan yang natural. Transformasi ini dinilai akan mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan di era kecerdasan buatan.





















