Mondayreview.com – Google resmi memperkenalkan model kecerdasan buatan terbaru mereka, Gemini 3 DeepThink, yang dirancang khusus untuk kebutuhan penalaran tingkat lanjut di bidang sains, teknik, dan matematika kompleks. Menurut video peluncuran yang dipublikasikan Google, model ini menunjukkan performa signifikan dalam berbagai tolok ukur internasional dan mulai digunakan dalam riset nyata oleh para ilmuwan.
Dalam uji kompetitif Code Forces, Gemini 3 DeepThink meraih rating ELO 3.455, angka yang disebut setara dengan peringkat kedelapan programmer kompetitif terbaik di dunia. Sementara pada benchmark Arc-AGI 2—yang dirancang untuk menguji kecerdasan sejati, bukan sekadar hafalan—performanya melonjak dari 30 persen menjadi 84,6 persen hanya dalam enam bulan, melampaui rata-rata manusia sebesar 60 persen.
Menurut paparan dalam video tersebut, model ini juga mengungguli Claude 4 Opus pada pengujian “Humanity’s Last Exam”, dengan peningkatan 8 persen dalam penalaran tingkat ahli di berbagai domain akademik tanpa bantuan alat eksternal.
Secara praktis, Gemini 3 DeepThink telah digunakan dalam penelitian matematika oleh Lisa Carbone dari Rutgers University, yang melaporkan AI tersebut menemukan kesalahan matematis pada Proposition 4.2 dalam riset aljabar berdimensi tak hingga. Di sektor semikonduktor, Wang Lab memanfaatkannya untuk mengoptimalkan pertumbuhan material 2D hingga mencapai rekor 130 mikron. Sementara dalam desain produk, Anopam Path menggunakannya untuk mempercepat iterasi desain komponen fisik hingga sepuluh kali lebih cepat.
Google juga memperkenalkan Althia, agen riset otonom berbasis DeepThink. Dalam demonstrasi tersebut, Althia diklaim mampu menulis satu makalah penuh tentang geometri aritmetika tanpa campur tangan manusia dan bahkan menyelesaikan empat dari 700 dugaan matematika Erdős secara mandiri. Sistem ini menggunakan pendekatan “Generate, Verify, Revise” untuk meningkatkan akurasi hingga 94 persen pada persoalan matematika kompleks.
Peluncuran ini menandai babak baru dalam pemanfaatan AI sebagai mitra riset ilmiah, sekaligus memunculkan diskusi tentang masa depan kolaborasi manusia dan mesin dalam dunia akademik serta industri teknologi tinggi.





















