Mondayreview.com– Transformasi teknologi pendidikan memasuki babak baru. Kecerdasan artifisial (AI), pembelajaran adaptif, laboratorium virtual, dan platform pembelajaran digital mulai mengubah ekosistem pendidikan global. Teknologi tidak lagi sekadar menjadi sarana untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi berkembang menjadi pendamping belajar yang mampu membantu siswa memahami konsep, mengeksplorasi pengetahuan, dan memperoleh pengalaman belajar yang lebih personal.
Perubahan tersebut semakin terlihat di kawasan Asia. Berbagai institusi pendidikan mulai mengintegrasikan AI ke dalam proses pembelajaran, pengembangan kompetensi guru, serta pengelolaan sekolah. Salah satu perkembangan menarik terjadi di Indonesia. Pada 13 Oktober 2026, Genius Group mengumumkan pengembangan Genius High di Nuanu Creative City, Bali. Sekolah yang direncanakan mulai beroperasi pada tahun ajaran 2027–2028 ini mengusung konsep sekolah berbasis AI, ruang belajar imersif yang terhubung dengan Starlink, serta laboratorium AI dan robotika. markets.businessinsider.com
AI semakin dekat dengan siswa Indonesia
Fenomena penggunaan AI dalam pendidikan Indonesia juga menunjukkan perkembangan signifikan. Dalam Konvensi Tahunan ke-9 Satuan Pendidikan Kerja Sama Indonesia pada awal Oktober 2026, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan bahwa 61 persen responden Indonesia dalam Consumer Insights 2026 menggunakan AI untuk pendidikan. Angka tersebut dilaporkan lebih tinggi dibandingkan India sebesar 22 persen, Amerika Serikat 22 persen, dan Belanda 14 persen. Dikti
Namun, tingginya penggunaan AI tidak otomatis menunjukkan peningkatan kualitas pembelajaran. Stella Christie mengingatkan fenomena cognitive offloading, yaitu kecenderungan menyerahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Ketika siswa terlalu bergantung pada AI untuk menjawab soal, merangkum bacaan, atau menyelesaikan tugas, terdapat risiko bahwa proses kognitif yang seharusnya dilatih justru tidak berkembang secara optimal.
Karena itu, pertanyaan penting dalam pendidikan masa depan bukan lagi apakah siswa boleh menggunakan AI, melainkan bagaimana AI digunakan untuk memperkuat kemampuan berpikir manusia. AI seharusnya menjadi tutor yang mengajukan pertanyaan, memberikan umpan balik, dan membantu siswa menemukan solusi, bukan mesin yang selalu memberikan jawaban akhir. Guru tetap memegang peran penting dalam merancang aktivitas yang mendorong eksplorasi, argumentasi, kreativitas, dan pemecahan masalah.
Kesenjangan digital masih menjadi pekerjaan besar
Di Indonesia, tantangan transformasi teknologi pendidikan juga berkaitan dengan pemerataan akses dan kesiapan sumber daya manusia. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti pada 3 Oktober 2026 menyampaikan bahwa baru sekitar 25 persen sekolah di Indonesia yang menawarkan mata pelajaran pilihan Koding dan Kecerdasan Artifisial. Program ini diarahkan untuk memperkenalkan keterampilan digital sejak kelas V sekolah dasar hingga jenjang pendidikan menengah. ANTARA News
Data tersebut memperlihatkan bahwa perluasan teknologi pendidikan tidak cukup dilakukan melalui pengadaan perangkat digital. Ketersediaan guru yang kompeten, materi pembelajaran, konektivitas internet, serta dukungan teknis menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa kesiapan tersebut, digitalisasi berisiko menciptakan kesenjangan baru antara sekolah yang memiliki ekosistem teknologi memadai dan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Inovasi AI lokal untuk menjangkau daerah 3T
Salah satu inovasi menarik datang dari Telkom University melalui pengembangan EduNusa LLM, sebuah model AI yang dirancang untuk mendukung pembelajaran siswa sekolah dasar, termasuk di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Produk ini diperkenalkan dalam rangkaian SATRIA 2026 pada 8 Oktober 2026 melalui kolaborasi CoE AI for Learning and Optimization Telkom University dan AirNav Indonesia.
Keunggulan EduNusa terletak pada penggunaan server lokal sehingga materi pembelajaran dapat diakses tanpa ketergantungan pada koneksi internet secara terus-menerus. Model ini juga mengadopsi pendekatan Socratic, yaitu membimbing siswa melalui pertanyaan bertahap agar mereka membangun pemahaman sendiri. Pendekatan tersebut menjadi alternatif menarik bagi model chatbot yang cenderung langsung memberikan jawaban. ailo.telkomuniversity.ac.id+1
Dunia mulai menata ulang penggunaan teknologi di sekolah
Di tengah ekspansi teknologi pendidikan, dunia juga mulai mengevaluasi dampak penggunaan perangkat digital terhadap konsentrasi dan kesejahteraan siswa. UNESCO melalui Global Education Monitoring Report mencatat bahwa hingga 2026, sebanyak 114 sistem pendidikan telah menerapkan larangan penggunaan telepon seluler di sekolah. Jumlah tersebut setara dengan 58 persen sistem pendidikan yang dipantau secara global. Kebijakan ini mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap gangguan konsentrasi, kesehatan mental, dan keseimbangan penggunaan teknologi di lingkungan sekolah. Global Education Monitoring Report
Perkembangan tersebut memberikan pesan penting: transformasi digital pendidikan tidak berarti seluruh aktivitas belajar harus menggunakan perangkat elektronik. Teknologi perlu ditempatkan secara proporsional berdasarkan tujuan pembelajaran. Aktivitas membaca buku, menulis, berdiskusi, bereksperimen, dan berinteraksi langsung tetap menjadi fondasi pembentukan kemampuan kognitif dan karakter peserta didik.
Pembelajaran mendalam menjadi kunci
Bagi Indonesia, momentum perkembangan AI harus dihubungkan dengan penguatan pembelajaran mendalam (deep learning). Kehadiran Papan Interaktif Digital, platform Rumah Pendidikan, laboratorium virtual, serta pengembangan Koding dan Kecerdasan Artifisial perlu diarahkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Guru perlu didorong untuk mengembangkan pembelajaran yang memadukan teknologi dengan aktivitas memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan pengetahuan. Siswa tidak cukup hanya mampu mengoperasikan aplikasi atau membuat perintah kepada AI. Mereka harus mampu menguji kebenaran informasi, mengenali bias algoritma, menjaga privasi data, memahami etika digital, dan menghasilkan karya berdasarkan pemikirannya sendiri.
Saatnya beralih dari digitalisasi menuju transformasi pembelajaran
Perkembangan teknologi pendidikan pada akhir 2026 menunjukkan bahwa kompetisi antarnegara tidak lagi semata-mata ditentukan oleh jumlah perangkat komputer, layar interaktif, atau platform digital yang dimiliki sekolah. Faktor yang lebih menentukan adalah kemampuan membangun ekosistem pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi, kompetensi guru, kurikulum, tata kelola data, dan kebutuhan peserta didik.
Indonesia memiliki peluang besar untuk melompat lebih jauh melalui pengembangan AI lokal, penguatan literasi digital, perluasan pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial, serta integrasi layanan pendidikan digital. Namun, keberhasilannya harus diukur dari perubahan nyata dalam kualitas pembelajaran, peningkatan kemampuan bernalar siswa, dan pemerataan kesempatan belajar.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukan tentang bagaimana manusia digantikan oleh kecerdasan buatan, melainkan bagaimana kecerdasan buatan membantu manusia menjadi lebih cerdas, kreatif, kritis, dan berdaya. Teknologi boleh semakin pintar, tetapi sekolah harus tetap menjadi tempat manusia belajar untuk berpikir.
Referensi utama
- Kemdiktisaintek – Wamendiktisaintek Stella Christie Tekankan Peran Pengajar di Era AI, 5 Oktober 2026.
- ANTARA – Around 25 pct Indonesian schools offer coding, AI subjects, 3 Oktober 2026.
- Telkom University – Peluncuran Sovereign AI Product EduNusa, 9 Oktober 2026.
- Kemdiktisaintek – Kolaborasi Riset dan Industri untuk Inovasi AI, 12 Oktober 2026.
- Business Insider – Genius Group Launches Genius High, 13 Oktober 2026.
- UNESCO GEM Report – How Many Countries Have Phone Bans in School?, September 2026.
Catatan redaksi: Artikel merupakan ulasan dan analisis atas perkembangan teknologi pendidikan hingga 1 November 2026. Data dan pengumuman merujuk pada sumber yang dicantumkan.
