REDAKSI

MONDAYREVIEW.COM - Salah satu tantangan terberat Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir adalah menyelesaikan sengkarut di tubuh maskapai penerbangan milik negara. Sebagaimana diketahui Merpati Nusantara sudah dipailitkan setelah bertahun-tahun nasibnya tak menentu dan terus merugi. Sementara Garuda Indonesia mengalami kerugian besar sebagai dampak tak terelakkan dari pandemi.  

Optimisme Erick tak surut hingga ia turut mengambil pengalaman menikmati layanan penerbangan baru Pelita Air dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Yogyakarta International Airport. Sebuah harapan kembali mengangkasa di cakrawala. Bagai pelita di lorong gelap pandemi yang panjang. 

“Pagi ini terbang dari Soekarno-Hatta menuju Yogyakarta dengan Pelita Air," tulis Erick Thohir dalam postingan itu pada Rabu (22/6/ 2020) lalu. 

Jajaran Kementerian BUMN dan Manajemen Pelita Air fokus pada upaya menggaet dan melayani para penumpang milenial. Jalur-jalur gemuk akan ditingkatkan frekuensi dan kapasitas penerbangannya. Keberadaan maskapai milik BUMN memang menjadi penyeimbang pasar sehingga konsumen mendapat alternatif dan layanan yang memenuhi standar dan harga yang wajar. 

Sementara itu terkait PT Garuda Indonesia Erick Thohir mampu meyakinkan para kreditur baik dalam maupun luar negeri dengan proposal yang diajukan sehingga Garuda mendapatkan kepastian Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). Hasil voting para kreditur memutuskan kreditur menyetujui proposal perdamaian Garuda Indonesia.

Diantara kesepakatan damai antara Garuda dengan para kreditur, Pemerintah mengusulkan untuk menggalang dana melalui rights issue yang diusulkan berlangsung sebanyak 2 tahap pada semester II tahun ini. Dengan kata lain sebagian utang akan dikonversi menjadi saham. Termasuk kepemilikan saham Pemerintah yang akan naik dari 60,54% menjadi 65%.  Dan pada taha berikutnya, rights issue bakal dilaksanakan sebagai pendanaan dari mitra strategis sehingga kepemilikan pemerintah turun menjadi 51 persen.

Terkait PT Merpati Nusantara Airlines (MNA) sebagai maskapai penerbangan pelat merah yang sudah dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Surabaya beberapa waktu lalu. Menteri BUMN Erick Thohir pun membuka opsi pengalihan aset Merpati Airlines ke Garuda Indonesia dan PT Pelita Air Service (PAS). PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA mencatat kewajiban atau utang Merpati mencapai Rp10,9 triliun dengan ekuitas negatif Rp1,9 triliun.

Didirikan pada 1962, perolehan muatan MNA sebagai maskapai rintisan terus mengalami penurunan sejak 1972. Penyertaan Modal Negara tak mampu menyelamatkan kondisi maskapai ini. Merpati Nusantara Airlines resmi berhenti beroperasi pada 1 Februari 2014 karena masalah keuangan dan utang justru pada saat Garuda Indonesia berjaya. 

Baca Juga
Member of Monday Media Group.
Copyright © 2021 MondayReview .
All rights reserved.
Privacy Policy | Contact