REDAKSI
Infrastruktur Bukan Cuma Soal Untung-Rugi
06 Jan 2022
Oleh : Umar Said

SEBELUM pemerintah menjadikan infrastruktur sebagai prioritas pembangunan, ada banyak cerita nan panjang dan melelahkan ketika kita menaklukan perjalanan dari satu kota ke kota lain di Indonesia. Terutama perjalanan darat, baik menggunakan kendaraan pribadi, bus, maupun kereta api.

Perjalanan panjang Jakarta-Surabaya misalnya, yang memiliki jarak tempuh sekitar 784 km harus ditempuh selama 15 hingga 20 Jam. Selain karena kemacetan di sejumlah titik, juga karena kondisi jalan yang tak cukup bagus.

Kepadatan bahkan sudah terasa sejak titik nol Cawang hingga Cikampek atau di jalur Bekasi-Karawang di luar jalur tol. Kemudian menyusuri ruas jalan pantura melewati Pamanukan, Jatibarang, Palimanan, Kanci dan Brebes yang cukup melelahkan.

Perjalanan masih harus menyusuri jalur Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal hingga tiba di Kota Semarang. Lanjut melewati beberapa kota yang didominasi panorama pantai pesisir utara Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, dan dataran rendah pesisir utara Jawa yang sedikit monoton sebelum akhirnya tiba di Mojokerto lalu Surabaya.

Hampir semua orang yang pernah hidup di era yang sama pasti merasakan cerita pilu di dalam kereta. Banyak yang bikin kita jadi miris. Soal desak-desakan itu pasti, tapi mirisnya sampai banyak penumpang yang naik ke atas kereta.

Di kereta kelas ekonomi, seringkali kita melihat orang tidur di lantai beralaskan koran. Lalu terbangun oleh sapuan para pengemis bermodus tukang bersih-bersih atau teriakan tukang pecel di ujung stasiun yang menjajakan barang dagangannya.

Kini cerita itu jadi berbeda, berkat pembangunan infrastruktur yang dibuat merata. Perjalanan Surabaya-Jakarta tak lagi butuh waktu lama. Waktu tempuhnya bisa dipangkas hingga 9 atau 10 jam jika lewat jalur tol Trans Jawa.

Berkat perubahan dari sisi tata kelola,  para pecinta kereta kini makin setia. Seperti satu kawan saya dari Jogja yang sudah puluhan tahun jadi pengguna kereta. Karena ia kerja di Jakarta, maka Senin hingga Jum’at ia tinggal di Ibu Kota. Pergi menggunakan kereta dari Stasiun Tugu Jogjakarta lalu pulang dengan bis tua. Biar gak kenapa macet katanya.

Stasiun kereta disulap dan ditata. Tidak ada lagi pedagang kaki lima. Kebersihan dan ketertiban betul-betul terjaga. Kereta api jadi transportasi ternyaman dan teraman.   

Manfaat luas infrastruktur
Betapa pun manfaatnya sudah kita rasakan, namun masih banyak orang bilang jika pembangunan infrastruktur yang selama ini dilakukan banyak rugi ketimbang untungnya. Pembangunan LRT dan Bandara Kertajati mereka jadikan contoh penguatnya. Keduanya jadi sarang walet, katanya.

Dari sejumlah data, diketahui nilai investasi sisi darat Bandara Kertajati adalah Rp2,6 triliun. Nilai tersebut termasuk pembangunan terminal utama dan fasilitas pendukungnya sebesar Rp2,2 triliun, sisanya untuk modal kerja dan kelengkapan fasilitas lainnya. Sementara pembangunan Light Rail Transot (LRT) Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) menghabiskan dana sebesar Rp12,5 triliun.

Bagi saya, pembangunan infrastruktur bukan soal untung-rugi, namun merupakan kewajiban pemerintah untuk mengatasi masalah perekonomian dan melayani kepentingan umum. Membuka akses untuk melakukan pemerataan.

Jika mau bicara untung-rugi, maka perlu juga dihitung berapa social cost dan kerugian ekonomi yang harus ditanggung baik pengelola fasilitas publik maupun masyarakat sendiri. Untuk kemacetan misalnya, kajian Bappenas bersama Bank Dunia menyebutkan, jika kerugian ekonomi akibat kemacetan di Jakarta saja mencapai Rp65 triliun per tahun. Sementara untuk 5 wilayah metropolitan lain (Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, dan Makassar) kerugiannya mencapai Rp12 triliun per tahun. Fantastis, namun jarang sekali dipersoalkan.

Yang banyak dipersoalkan lebih banyak seperti penyediaan tanah untuk pembangunan jalan tol. Padahal, mengacu UU Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah, persoalan tersebut sebagaimana pada pasal 10 bukan untuk kepentingan untung-rugi individu ataupun instansi. Karena jalan tol mutlak perlu untuk kelancaran transportasi.

Meski kita juga tahu, pihak mana pun pasti menghitung untung-rugi bahkan meminta jaminan pemerintah bahwa proyek jalan tol tersebut tidak merugikan. Memang, hampir tak ada satu pun pebisnis yang mau kehilangan uang, ini adalah hukum besi ekonomi.

Dalam konteks ini kita perlu mengingat, bahwa untuk memperkuat dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi, perekonomian yang sedang tumbuh perlu menarik modal jangka panjang yang diinvestasikan dalam proyek infrastruktur terbaik.

Infrastruktur merupakan roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Fasilitas transportasi memungkinkan orang, barang, dan jasa yang diangkut dari satu tempat ke tempat yang lain di seluruh penjuru negeri. Perannya amat penting baik dalam proses produksi maupun dalam menunjang distribusi komoditi ekonomi.

Telekomunikasi, listrik, dan air merupakan elemen yang sangat penting dalam proses produksi dari sektor-sektor ekonomi seperti perdagangan, industri dan pertanian. Keberadaaan infrastruktur akan mendorong terjadinya peningkatan produktivitas bagi faktor-faktor produksi. Itu intinya.

Dalam konteks pemulihan ekonomi gegara pandemi, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu kebijakan fiskal untuk mendorong pembangunan ekonomi inklusif.  Kenapa begitu? Karena insfrastruktur sangat berguna untuk memudahkan aktivitas ekonomi dan mampu menciptakan konektivitas.

Selain itu, pembangunan infrastruktur juga membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga membuka lapangan usaha baru yang menunjang pembangunan infrastruktur terkait. Kehidupan masyarakat di sekitar proyek infrastruktur kian terangkat.

Infrastruktur yang memadai juga akan menarik investasi, sehingga bermanfaat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Artinya ada manfaat jangka panjang yang tak ternilai harganya.

Proyek Infrastruktur seperti MRT Jakarta, Tol Lampung Palembang, maupun Jalan Layang Cikampek (Syeikh Mohammed bin Zayed Elevated) jadi bukti bagaimana kita makin mudah dan nyaman bepergian menggunakan kendaraan. Lalu lintas makin lancar, dan yang terpenting tentu saja munculnya titik-titik pertumbuhan ekonomi dan pusat peradaban baru yang tercipta. [ ]

 

Baca Juga
Member of Monday Media Group.
Copyright © 2021 MondayReview .
All rights reserved.
Privacy Policy | Contact