Mondayreview.com– Presiden Prabowo Subianto meresmikan 14 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas 5,3 gigawatt (GW) pada Selasa (25/8/2026). Langkah tersebut menjadi bagian dari ambisi pemerintah meningkatkan kapasitas PLTS hingga 100 GW sepanjang 2026–2029, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil.
Dari 14 proyek yang diluncurkan, dua PLTS telah beroperasi, enam masih dalam tahap konstruksi, dan enam lainnya akan ditawarkan kepada investor. Pejabat senior Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi, menyebut total investasi 14 proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp135 triliun atau sekitar US$7,62 miliar.
Target 100 GW membutuhkan investasi yang jauh lebih besar. Pemerintah memperkirakan pembangunan kapasitas tersebut memerlukan sekitar Rp1.140 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa transisi energi Indonesia bukan hanya agenda teknologi, tetapi juga proyek investasi berskala besar yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, BUMN, lembaga keuangan, dan investor swasta.
Bagaimana PLTS Menghasilkan Listrik?
PLTS merupakan pembangkit yang mengubah radiasi matahari menjadi energi listrik menggunakan teknologi fotovoltaik (photovoltaic/PV). Ketika cahaya matahari mengenai sel surya yang umumnya berbahan semikonduktor silikon, energi foton memicu pergerakan elektron sehingga menghasilkan listrik arus searah atau DC.
Listrik DC kemudian dikonversi oleh inverter menjadi listrik arus bolak-balik atau AC yang dapat digunakan oleh konsumen maupun disalurkan ke jaringan listrik. Karena itu, konsep dasar PLTS sebenarnya sederhana: matahari → panel surya → listrik DC → inverter → listrik AC → jaringan/konsumen.
Namun, pembangunan PLTS dalam skala puluhan hingga 100 GW menghadirkan tantangan baru. Produksi listrik PLTS bergantung pada intensitas matahari dan kondisi cuaca, serta berhenti pada malam hari. Karena itu, semakin besar kontribusi PLTS dalam sistem kelistrikan, semakin penting pula teknologi penyimpanan dan pengelolaan energi.
Baterai dan Smart Grid Jadi Teknologi Kunci
Salah satu teknologi penting adalah Battery Energy Storage System (BESS). Baterai memungkinkan listrik yang dihasilkan PLTS pada siang hari disimpan dan digunakan ketika produksi surya menurun atau kebutuhan listrik meningkat.
Selain BESS, perkembangan teknologi inverter pintar, sistem monitoring digital, solar tracker, dan smart grid akan menentukan efisiensi PLTS. Inverter modern, misalnya, tidak hanya mengubah listrik DC menjadi AC, tetapi juga dapat membantu pengaturan jaringan, pemantauan performa, serta integrasi dengan sistem penyimpanan energi.
Teknologi digital dan kecerdasan artifisial juga berpotensi memainkan peran lebih besar. Data cuaca, intensitas matahari, konsumsi listrik, dan performa panel dapat digunakan untuk memprediksi produksi PLTS sehingga operator jaringan dapat mengatur pasokan listrik dengan lebih presisi.
Tantangan 100 GW Bukan Sekadar Memasang Panel
Ambisi 100 GW berarti tantangan Indonesia akan bergeser dari sekadar membangun pembangkit menjadi bagaimana mengintegrasikan energi surya dalam jumlah besar ke sistem kelistrikan nasional. Infrastruktur transmisi, distribusi, penyimpanan energi, serta sistem pengendalian harus berkembang secara bersamaan.
Pemerintah memperkirakan pengembangan PLTS juga dapat memberikan manfaat ekonomi melalui penurunan biaya pembangkitan listrik. Program tersebut diproyeksikan mampu mengurangi biaya listrik hingga Rp73,9 triliun per tahun melalui penurunan biaya produksi.
Bagi Indonesia, PLTS juga memiliki peluang pengembangan yang luas melalui PLTS terapung di waduk dan badan air, selain pembangunan PLTS skala utilitas maupun atap. Jika dikombinasikan dengan BESS, jaringan pintar, dan teknologi prediksi berbasis AI, PLTS dapat berkembang dari sekadar sumber listrik tambahan menjadi salah satu fondasi sistem energi nasional.
Dengan demikian, target 100 GW PLTS merupakan proyek transformasi energi sekaligus transformasi teknologi. Keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak panel yang terpasang, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia membangun ekosistem industri, penyimpanan energi, transmisi, digitalisasi, dan sumber daya manusia yang mampu mengelola energi surya dalam skala nasional.
