Mondayreview.com-, Industri perbankan global semakin agresif mengadopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, seiring dengan meluasnya penggunaan teknologi tersebut, perhatian bank-bank besar kini tidak hanya tertuju pada inovasi dan efisiensi, tetapi juga pada penerapan responsible AI atau AI yang bertanggung jawab. Laporan tahunan lembaga riset Evident terhadap 50 perusahaan keuangan terbesar di dunia menunjukkan bahwa tata kelola AI telah menjadi bagian penting dari strategi transformasi digital perbankan.
Menurut laporan Evident yang dikutip Kompas.com pada 11 Oktober 2026, hampir seluruh bank yang disurvei telah menerapkan prinsip responsible AI. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan 2023, ketika baru 16 bank yang menerapkannya. Lebih dari dua pertiga bank juga memiliki mekanisme pengawasan khusus untuk memeriksa data masukan, mengevaluasi keluaran sistem, membatasi penggunaan perangkat AI, serta memantau sistem yang telah beroperasi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa AI di sektor keuangan mulai memasuki tahap yang lebih matang. Bank tidak lagi cukup hanya menguji coba teknologi untuk mempercepat pekerjaan administratif atau meningkatkan produktivitas karyawan. AI kini digunakan dalam berbagai fungsi strategis, mulai dari penilaian kredit, deteksi penipuan, pemantauan transaksi, pembayaran, perdagangan saham, hingga pemberian rekomendasi keuangan kepada nasabah.
Evident mencatat bahwa 50 bank yang disurvei telah menerapkan lebih dari 1.100 kasus penggunaan AI sejak 2021. Dalam setahun terakhir, kemajuan adopsi AI bahkan berlangsung tiga kali lebih cepat dibandingkan tiga tahun sebelumnya. Sebanyak 12 bank juga melaporkan telah memperoleh keuntungan nyata atau return on investment (ROI) dari proyek AI mereka, meningkat dibandingkan delapan bank pada tahun sebelumnya.
JPMorgan Chase menempati peringkat pertama dalam Maturity Index Evident, disusul Capital One, Royal Bank of Canada, dan CommBank. Posisi tersebut mencerminkan pentingnya kombinasi antara kemampuan sumber daya manusia, inovasi, kepemimpinan, dan transparansi dalam pengembangan AI. Bank yang unggul tidak sekadar memiliki teknologi canggih, tetapi juga membangun mekanisme pengawasan dan mengukur dampak penerapannya terhadap kegiatan bisnis.
Tantangan terbesar muncul karena sektor perbankan mengelola data sensitif dan mengambil keputusan yang dapat memengaruhi kondisi keuangan masyarakat. Kesalahan algoritma dalam penilaian kredit, misalnya, berpotensi menghasilkan keputusan yang tidak adil. Sementara itu, kelemahan sistem deteksi penipuan dapat menyebabkan transaksi mencurigakan lolos dari pengawasan atau justru menghambat transaksi sah milik nasabah. Risiko tersebut menegaskan bahwa akurasi teknis saja tidak cukup tanpa transparansi, perlindungan data, dan mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.
Karena itu, responsible AI perlu diterapkan sejak tahap perancangan sistem. Bank harus menetapkan batas penggunaan, hak akses, standar evaluasi, prosedur pemantauan, serta mekanisme penanganan masalah sebelum AI digunakan secara luas. Pengawasan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan karena performa sistem dapat berubah mengikuti perkembangan data, pola transaksi, dan perilaku pengguna. Dalam konteks ini, manusia tetap harus memiliki kewenangan untuk mengevaluasi, mengoreksi, atau menghentikan keputusan AI yang berisiko.
Perhatian terhadap tata kelola juga terlihat dari pertumbuhan tenaga ahli pengawas AI di 50 bank teratas yang meningkat 33 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Bank membutuhkan ilmuwan AI, insinyur perangkat lunak, manajer produk, serta spesialis risiko dan kepatuhan untuk memastikan teknologi berjalan sesuai tujuan. Investasi pada kompetensi tersebut sama pentingnya dengan investasi pada infrastruktur komputasi dan pengembangan model AI.
Perkembangan berikutnya adalah penggunaan AI agents untuk menjalankan rangkaian tugas yang lebih kompleks. Lebih dari separuh pimpinan teknologi informasi perbankan yang disurvei memperkirakan AI agents akan diterapkan secara luas dalam manajemen risiko, kepatuhan, audit, pelacakan penipuan, dan pemantauan transaksi. Berbeda dengan AI yang hanya memberikan jawaban atau rekomendasi, AI agents dapat menjalankan tahapan pekerjaan berdasarkan instruksi dan akses yang diberikan. Kemampuan tersebut membuka peluang efisiensi, tetapi sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap pembatasan kewenangan, pencatatan aktivitas, dan persetujuan manusia untuk tindakan berisiko tinggi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran penting dalam mempercepat transformasi perbankan digital. Bank tidak cukup berlomba menghadirkan chatbot, otomatisasi layanan, atau aplikasi berbasis AI. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan melindungi data nasabah, mencegah diskriminasi algoritmik, menjelaskan keputusan otomatis, serta memastikan adanya pihak yang bertanggung jawab ketika sistem mengalami kegagalan. Prinsip tersebut perlu diterapkan sejalan dengan ketentuan perlindungan data pribadi, keamanan siber, dan regulasi sektor jasa keuangan.
Pada akhirnya, masa depan AI di perbankan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat teknologi diadopsi, tetapi juga oleh seberapa besar kepercayaan yang mampu dipertahankan. Efisiensi dan keuntungan bisnis memang menjadi alasan penting bagi bank untuk berinvestasi pada AI. Namun, dalam industri yang bertumpu pada kepercayaan publik, inovasi yang tidak disertai tata kelola dapat berubah menjadi sumber risiko. Responsible AI karena itu bukan sekadar kewajiban kepatuhan, melainkan fondasi bagi perbankan digital yang aman, adil, transparan, dan berkelanjutan.
