Agentic AI Masuk ke Enterprise Workflow

Mondayreview.com– Perkembangan Agentic AI memasuki fase baru di lingkungan perusahaan. AI agent tidak lagi hanya digunakan untuk menjawab pertanyaan atau membantu pekerjaan individual, tetapi mulai diintegrasikan ke dalam workflow bisnis nyata, mulai dari layanan pelanggan, operasi TI, keuangan, procurement, keamanan siber hingga pengembangan perangkat lunak.

Perubahan ini terlihat dari semakin banyaknya perusahaan yang membawa AI agent ke tahap produksi. Survei Mayfield terhadap 266 CIO, CTO, CAIO, CISO, dan CDO menunjukkan 42 persen responden telah menggunakan agentic AI dalam produksi, sementara 72 persen telah menggunakannya dalam kombinasi produksi dan tahap pilot. Penerapannya mencakup fungsi IT, operasi, keuangan dan customer experience .

Data yang lebih baru dari IDC bahkan menunjukkan skala adopsi yang lebih luas. Berdasarkan Future Enterprise Resiliency and Spending Survey yang dilakukan pada Juli 2026, sekitar 95 persen perusahaan di dunia telah menjalankan sedikitnya satu workflow berbasis agent yang didanai perusahaan dalam produksi. Rata-rata organisasi menjalankan sekitar 11 workflow agentic pada berbagai fungsi bisnis.

Penggunaan AI agent juga semakin masuk ke fungsi yang membutuhkan proses bertahap. Dalam customer service, misalnya, agent dapat memahami permintaan pelanggan, mencari informasi, menentukan tindakan, dan mengeksekusi penyelesaian. Pada keamanan siber, agent dapat membantu melakukan triase insiden dan menghubungkan berbagai informasi log, sementara dalam software development agent mulai digunakan untuk membantu membangun dan memperbaiki perangkat lunak.

Di bidang procurement dan operasi internal, nilai agentic AI semakin terlihat ketika agen dapat bekerja melintasi sejumlah aplikasi dan sistem. Survei Contentstack terhadap 621 pemimpin digital perusahaan menemukan 54 persen responden menggunakan agent untuk mengotomatisasi workflow lintas tools dan sistem, seperti persetujuan, routing, dan notifikasi (Contentstack, 2026).

Namun, transformasi tersebut tidak otomatis menghasilkan dampak bisnis. Deloitte menemukan hanya 5 persen organisasi yang menilai proses bisnis mereka saat ini sangat siap untuk AI agent. Hanya 15 persen yang telah melakukan scaling terhadap adopsi multi-agent lintas fungsi, sementara hampir dua pertiga eksekutif menyatakan mereka sedang mengevaluasi kembali model bisnis dan workflow karena penerapan agentic AI membutuhkan perubahan proses, bukan sekadar pemasangan teknologi.

Tantangan lain adalah governance. Deloitte mencatat hanya 21 persen perusahaan dalam surveinya yang telah memiliki tata kelola agentic AI yang matang. Ketika agen memperoleh kewenangan untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan secara otomatis, perusahaan membutuhkan batas kewenangan, pemantauan secara real-time, audit trail, keamanan identitas, serta mekanisme human-in-the-loop untuk keputusan berisiko tinggi .

Dengan demikian, arah perkembangan enterprise AI mulai bergeser dari pertanyaan “bagaimana menggunakan chatbot?” menjadi “proses bisnis apa yang dapat didelegasikan kepada AI agent?”. Perusahaan yang berhasil bukan hanya yang memiliki model AI paling canggih, tetapi yang mampu mengintegrasikan agent dengan data, aplikasi, API, workflow, keamanan dan tata kelola sehingga AI benar-benar menjadi bagian dari mesin operasional perusahaan.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *