Mondayreview.com– Gelombang pembatasan Artificial Intelligence (AI) mulai muncul di sekolah-sekolah Amerika Serikat. New York City, salah satu sistem pendidikan terbesar di AS, menerapkan moratorium selama satu tahun terhadap penggunaan AI generatif oleh siswa dari preschool hingga kelas 8 pada tahun ajaran 2026-2027. Kebijakan tersebut mulai berlaku ketika tahun ajaran baru dimulai pada 10 September 2026.
Kebijakan New York City mencakup chatbot dan AI tutor yang merespons instruksi siswa. Untuk jenjang sekolah menengah atas, penggunaan AI masih diperbolehkan secara terbatas dengan pendekatan yang lebih terarah. Sementara itu, guru tetap dapat menggunakan sejumlah AI yang telah disetujui untuk kegiatan seperti perencanaan pembelajaran, penerjemahan, dan penyusunan komunikasi, tetapi tidak untuk penilaian, pemantauan perilaku, konseling, atau penyusunan rencana pendidikan khusus.
Menurut Axios, kebijakan tersebut muncul di tengah perdebatan mengenai manfaat dan risiko AI dalam pendidikan. Sejumlah penelitian menunjukkan AI tutor yang dipersonalisasi dapat membantu pembelajaran, tetapi penelitian lain mengaitkan penggunaan AI untuk menulis tugas dengan melemahnya kemampuan berpikir kritis. Kekhawatiran orang tua juga meningkat karena anak-anak dianggap menjadi generasi pertama yang mengalami penetrasi AI secara masif dalam proses pendidikan.
Persoalan lain adalah penggunaan perangkat digital. New York City tidak hanya membatasi AI, tetapi juga memperketat screen time. Siswa preschool hingga kelas 2 tidak diperbolehkan menggunakan perangkat individual dalam pembelajaran. Siswa kelas 3-5 direkomendasikan menggunakan perangkat individual maksimal 30 menit per hari, sedangkan siswa sekolah menengah pertama maksimal 45 menit.
Kebijakan tersebut menunjukkan perubahan penting dalam cara sekolah memandang transformasi digital. Teknologi tidak lagi otomatis dianggap semakin banyak digunakan semakin baik. Sekolah mulai mempertanyakan teknologi apa yang sesuai dengan usia siswa, tujuan pembelajaran apa yang ingin dicapai, serta kapan interaksi manusia harus lebih diutamakan daripada layar.
Di sisi lain, larangan menyeluruh juga menghadapi kritik. Sejumlah pendidik memperingatkan bahwa pembatasan terlalu ketat dapat membuat siswa kehilangan kesempatan belajar menggunakan teknologi yang akan menjadi bagian penting dari dunia kerja. Karena itu, tantangan sebenarnya bukan sekadar memilih antara “AI digunakan” atau “AI dilarang”, melainkan menentukan kapan, untuk siapa, dan untuk tujuan apa AI digunakan.
Pengalaman New York City memberikan pelajaran penting bagi transformasi digital pendidikan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada jenjang usia dini dan pendidikan dasar, penguatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, berpikir kritis, interaksi sosial, dan kreativitas perlu tetap menjadi fondasi. AI kemudian dapat diperkenalkan secara bertahap sesuai perkembangan kognitif siswa, dengan guru tetap menjadi pengarah utama.
Dengan demikian, masa depan pendidikan bukanlah pendidikan tanpa teknologi, tetapi pendidikan yang mampu menempatkan teknologi pada tempat yang tepat. AI dapat menjadi copilot bagi guru dan siswa, tetapi tidak boleh berubah menjadi autopilot yang mengambil alih proses berpikir dan tanggung jawab manusia.
