Mondayreview.com– Persepsi publik di Amerika Serikat terhadap China mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik—mulai dari perang dagang hingga konflik militer terbuka—survei terbaru dari Pew Research Center menunjukkan adanya pelunakan sikap masyarakat Amerika terhadap rival utamanya tersebut.
Data terbaru mengungkap bahwa 27% warga Amerika kini memiliki pandangan positif terhadap China, hampir dua kali lipat dibandingkan angka 14% pada 2023. Lonjakan ini menandai pergeseran tajam dari periode pandemi Covid-19, ketika sentimen anti-China dan kejahatan rasial terhadap warga Asia meningkat drastis. Survei ini melibatkan lebih dari 8.500 responden dewasa di seluruh negeri pada Januari hingga Maret 2026.
Meski mayoritas warga Amerika masih memandang China sebagai pesaing strategis, jumlah yang menganggapnya sebagai musuh mulai menurun. Perubahan ini juga tercermin dalam meningkatnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Xi Jinping. Sebanyak 17% responden kini menyatakan keyakinan bahwa Xi mampu mengambil keputusan yang tepat dalam urusan global—angka yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
Sebaliknya, tingkat kepercayaan terhadap Presiden Donald Trump dalam menangani kebijakan terkait China justru mengalami penurunan. Hanya 39% responden yang menyatakan keyakinan terhadap kebijakan Trump, turun enam poin persentase dari tahun sebelumnya. Hal ini terjadi di tengah kebijakan luar negeri Trump yang dinilai tidak stabil, mulai dari tarif global hingga konflik dengan Iran.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di ranah politik, tetapi juga budaya. Generasi muda Amerika menunjukkan ketertarikan yang semakin besar terhadap budaya China, terutama melalui tren media sosial seperti “Chinamaxxing.” Tren ini mencerminkan adopsi gaya hidup dan kebiasaan khas China, mulai dari konsumsi teh herbal hingga latihan fisik tradisional, yang viral di berbagai platform digital.
Selain itu, produk budaya dan komersial asal China juga semakin diterima secara global. Aplikasi seperti Xiaohongshu, serta berbagai produk fashion dan mainan dari China, menjadi bagian dari arus soft power yang memperkuat citra negara tersebut di mata dunia. Fenomena ini bahkan mendorong interaksi lintas budaya antara pengguna internet Amerika dan China dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Secara global, tren serupa juga mulai terlihat. Di Kanada, misalnya, jumlah warga yang memiliki pandangan positif terhadap China meningkat hampir tiga kali lipat sejak 2021. Sementara di Asia Tenggara, mayoritas tipis responden dalam survei terbaru menyatakan lebih memilih beraliansi dengan China dibandingkan Amerika Serikat jika dipaksa memilih.
Perubahan opini publik ini menunjukkan bahwa di balik ketegangan geopolitik yang terus meningkat, terdapat dinamika baru dalam persepsi masyarakat global. Bagi China, pergeseran ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan dunia yang stabil dan bertanggung jawab—sebuah narasi yang terus dibangun oleh Beijing di tengah ketidakpastian global.
