Kiai Menteri dan Tawa yang Mendalam

Senyumnya selalu lepas, renyah, penuh tawa. Bagi mereka yang terbiasa melihat pejabat negara dengan dahi berkerut dan tatapan dingin, Profesor Abdul Mu’ti adalah sebuah kesegaran yang ganjil.

Ia memimpin kementerian raksasa, mengomandani jutaan nasib guru dan anak sekolah. Namun, di panggung publik, ia adalah panglima humor.

Orang-orang menjulukinya ikon “Muhammadiyah Garis Lucu”—seorang ulama dan akademisi yang mampu mengubah doktrin berat menjadi sekeranjang lelucon segar. Tawa baginya, lebih dari sekadar kelucuan. Ia adalah cara untuk membuat sesuatu yang berat terasa lebih ringan, tanpa kehilangan kedalamannya.

Ia dibesarkan oleh udara Kudus, kota pesisir yang blak-blakan dan egaliter. Di sana, sejak kecil batinnya ditempa oleh sunyinya lembar kitab kuno sekaligus riuhnya gojekan di gardu ronda. Dialek pesisir yang ceplas-ceplos itu tak pernah luntur, bahkan setelah ia melintasi benua untuk merengkuh gelar master di Australia.

Baginya, kecerdasan terbaik tidak lahir dari kekakuan, melainkan dari kelonggaran jiwa yang bahagia.

Kini, selera humor yang tinggi itu dibawanya ke ruang birokrasi yang terkenal kaku dan formal. Mu’ti melihat sebuah tragedi di sekolah-sekolah kita: anak-anak yang kehilangan tawa karena tas mereka terlalu berat.

Kurikulum kita menderita obesitas, memaksa murid menghafal segalanya demi angka-angka bisu di atas kertas, lalu melupakannya saat keluar gerbang sekolah.

“Sekolah harus bikin bahagia,” katanya berseloroh, namun matanya menyorotkan keseriusan yang pekat.

Dari sanalah ia menyodorkan penawar bernama Deep Learning. Pembelajaran mendalam. Ini bukan sekadar teori akademik yang rumit. Di tangan Mu’ti, konsep ini menjadi sebuah pemberontakan yang humanis.

Ia ingin memangkas tumpukan materi pelajaran yang gemuk agar guru dan murid punya ruang untuk bernapas, saling mendengar, dan tertawa bersama.

Ia merajut tiga pilar yang saling mengikat dalam sunyi. Pertama adalah kesadaran (mindful), di mana siswa tahu untuk apa mereka belajar, bukan sekadar menjadi robot penghafal rumus hari Senin. Kesadaran itu lalu melahirkan makna (meaningful), mengubah kelas yang tadinya sepi monolog menjadi panggung diskusi yang kritis dan hidup. Dan puncaknya adalah kegembiraan (joyful). Belajar harus menjadi proses yang menyenangkan, bukan ruang interogasi yang menakutkan bagi anak-anak.

Mu’ti tahu persis, kunci dari ruang kelas yang hidup ini ada di tangan guru. Guru bukanlah mesin pengalir materi yang dikejar-kejar dokumen administratif. Guru adalah pemantik api. Karena itu, kesejahteraan dan kompetensi mereka kini ikut diseret dalam arus perubahan ini.

Mendidik, bagi seorang Abdul Mu’ti, bukanlah tentang mengumpulkan tumpukan kertas laporan yang tebalnya minta ampun. Mendidik adalah mengetuk pintu jiwa. Dengan banyolan-banyolan cerdas dan senyumnya yang tak pernah pudar, sang Profesor sedang mencoba meruntuhkan tembok-tembok kekakuan pendidikan nasional kita.

Ia sedang memimpin sebuah transisi besar: dari generasi yang menghafal materi, menuju generasi yang berpikir mendalam dengan hati yang gembira.

Kita sedang menyaksikan bagaimana sebuah kapal besar bernama pendidikan Indonesia coba diarahkan bukan dengan instruksi yang galak, melainkan dengan ketukan humor yang mencerdaskan.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *