Mondayreview.com– Guru Besar Matematika Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Iwan Pranoto menyoroti sejumlah persoalan mendasar dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya pembelajaran matematika. Dalam diskusi bersama Cania Citta, ia menilai pembelajaran tidak seharusnya berhenti pada kemampuan siswa menghafal rumus dan mengerjakan soal secara berulang, tetapi harus membangun kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Salah satu kritik utama Prof. Iwan adalah praktik “drill and kill”, yakni pembelajaran yang terlalu bertumpu pada latihan berulang untuk memperoleh jawaban benar. Menurutnya, pendekatan tersebut perlu diarahkan menjadi “thrill and will”, yaitu pembelajaran yang mampu menghadirkan pengalaman menarik sehingga siswa memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar.
Ia juga menekankan pentingnya quick win dalam proses belajar. Siswa perlu memperoleh pengalaman keberhasilan kecil secara bertahap sebelum menghadapi persoalan yang lebih kompleks. Pola tersebut dinilai serupa dengan desain permainan digital yang memberikan tantangan secara bertingkat, sehingga pemain tetap termotivasi untuk melanjutkan ke level berikutnya.
Dalam konteks matematika, Prof. Iwan menegaskan bahwa matematika pada dasarnya adalah aktivitas berpikir. Kemampuan matematika tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak rumus yang dapat dihafalkan atau seberapa cepat siswa mendapatkan jawaban akhir, tetapi dari kemampuan melakukan penalaran (reasoning), melihat hubungan antarkonsep, serta mencari solusi terhadap persoalan.
Persoalan lain yang disoroti adalah kecenderungan menerapkan pendekatan “one size fits all” dalam pendidikan. Indonesia memiliki kondisi geografis, sosial, budaya, ekonomi, dan karakteristik peserta didik yang sangat beragam. Karena itu, kebijakan pendidikan yang terlalu seragam berisiko mengabaikan kebutuhan dan potensi lokal masing-masing daerah.
Prof. Iwan juga mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membangun manusia secara utuh, bukan hanya kemampuan akademik. Empat dimensi kecerdasan yang perlu dikembangkan mencakup kecerdasan fisik, akal, sosial-emosional, dan spiritual. Pendekatan tersebut menempatkan sekolah bukan sekadar sebagai tempat transfer pengetahuan, tetapi sebagai ruang pembentukan manusia.
Salah satu tantangan terbesar yang perlu diubah adalah budaya takut salah. Dalam pembelajaran yang sehat, kesalahan semestinya dipandang sebagai bagian dari proses menemukan pengetahuan. Ketika siswa takut salah, mereka cenderung memilih diam dan menghindari tantangan. Sebaliknya, ketika kesalahan diperlakukan sebagai bahan refleksi, siswa memiliki ruang untuk bereksperimen dan mengembangkan keberanian berpikir.
Perubahan pendidikan, menurut gagasan yang disampaikan Prof. Iwan, tidak selalu harus menunggu program besar atau pelatihan formal yang membutuhkan biaya tinggi. Inovasi dapat dimulai dari tingkat paling bawah melalui praktik sederhana, kolaborasi antarguru, serta berbagi konten pembelajaran melalui kanal digital seperti WhatsApp dan TikTok. Transformasi pendidikan pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tetapi perubahan cara memandang proses belajar.
Gagasan tersebut relevan dengan arah Pembelajaran Mendalam, yang menempatkan pemahaman konseptual, nalar, pengalaman belajar yang bermakna, dan refleksi sebagai bagian penting dari pembelajaran. Tantangannya adalah bagaimana prinsip tersebut diterjemahkan menjadi praktik kelas yang konkret—termasuk dalam matematika—sehingga siswa tidak hanya mampu menjawab “berapa hasilnya?”, tetapi juga mampu menjelaskan “mengapa jawabannya demikian?”.
