AI Generatif Dituding Reproduksi Neokolonialisme Digital di Dunia Pendidikan

Mondayreview.com- Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan generatif (GenAI) dalam sistem pendidikan global memunculkan kekhawatiran serius terkait ketimpangan pengetahuan. Studi berjudul Generative AI and digital neocolonialism in global education: Towards an equitable framework menyoroti bagaimana teknologi ini tidak hanya menjadi alat bantu pembelajaran, tetapi juga berpotensi memperkuat dominasi epistemik Barat serta meminggirkan perspektif dari negara-negara Global South.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif kritis-konstruktif dengan menguji model AI seperti ChatGPT-4 Turbo dan Gemini 1.5 melalui teknik zero-shot prompting. Uji coba dilakukan dalam berbagai konteks geografis, baik di Global North maupun Global South, untuk melihat bagaimana respons AI mencerminkan bias tertentu. Menurut studi yang dikutip sebagai sumber, hasil analisis menunjukkan adanya pola yang mengarah pada praktik neokolonialisme digital.

Dalam temuan utamanya, peneliti mengidentifikasi enam dimensi yang memperkuat dominasi Barat dalam penggunaan GenAI di pendidikan. Dimensi tersebut meliputi ideologi kurikulum Barat, imperialisme budaya, kontrol pedagogis, marginalisasi bahasa lokal, kurangnya representasi ras dan etnis non-Barat, serta ketimpangan akses teknologi. Salah satu contoh konkret adalah ketika model AI memberikan jawaban yang menyamakan musim di Amerika Serikat dan Ghana, mencerminkan asumsi iklim berbasis Barat yang tidak sesuai dengan realitas lokal.

Selain itu, studi juga menemukan bahwa output GenAI kerap menggunakan referensi visual dan sumber pembelajaran yang berpusat pada Barat. Dukungan terhadap bahasa lokal dan pengetahuan Indigenous juga masih terbatas. Bahkan dari sisi ekonomi, model berbasis langganan dinilai memperparah ketimpangan, karena institusi pendidikan di negara berkembang harus menanggung biaya yang relatif lebih tinggi akibat perbedaan nilai mata uang.

Sebagai solusi, penelitian ini menawarkan dua jalur utama untuk menciptakan penggunaan GenAI yang lebih adil. Jalur pertama berfokus pada desain teknologi, dengan mendorong pendekatan desain yang membebaskan, partisipasi lokal, serta kedaulatan data. Jalur kedua menyasar aspek pedagogi, yakni dengan mengembangkan model prompt engineering berbasis manusia yang memungkinkan pendidik mengkritisi dan menyesuaikan output AI sesuai konteks lokal.

Dengan demikian, menurut studi berjudul Generative AI and digital neocolonialism in global education: Towards an equitable framework yang dikutip sebagai sumber, GenAI tidak seharusnya diposisikan sekadar sebagai alat teknologi, melainkan sebagai ruang etis yang harus dikelola secara inklusif dan responsif terhadap keragaman budaya global. Upaya ini dinilai penting agar transformasi digital dalam pendidikan tidak justru memperdalam ketimpangan yang sudah ada.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *