Ketahanan Energi RI Kuat di Tengah Gejolak Global

Mondayreview.com– Ketahanan energi Indonesia per Mei 2026 dilaporkan berada dalam posisi sangat kuat, bahkan menempati peringkat kedua dunia menurut JP Morgan Asset Management. Capaian ini mencerminkan kemampuan tinggi Indonesia dalam menghadapi guncangan global, terutama di tengah dinamika geopolitik dan pasar energi internasional yang semakin kompleks.

Secara teknis, Dewan Energi Nasional mencatat indeks ketahanan energi Indonesia berada di angka 6,64, masuk kategori “tahan”. Indikator ini mengacu pada empat aspek utama, yakni ketersediaan (availability), aksesibilitas (accessibility), keterjangkauan (affordability), dan keberterimaan lingkungan (acceptability). Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga memastikan bahwa pasokan energi nasional dalam kondisi aman dan stabil.

Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Produksi minyak bumi domestik terus mengalami penurunan, sementara ketergantungan terhadap energi fosil masih mencapai sekitar 90%. Untuk itu, pemerintah mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) seperti panas bumi, tenaga air, surya, dan bioenergi, mengingat potensi nasional yang mencapai ribuan gigawatt.

Di sisi global, laporan dari International Energy Agency dan Ember menunjukkan konsumsi energi dunia tumbuh 2,2% pada 2024, sebelum melambat menjadi sekitar 1,3% pada 2025. Negara berkembang seperti Tiongkok dan India menjadi motor utama, menyumbang lebih dari 80% pertumbuhan permintaan energi global.

Transformasi menuju energi bersih juga semakin nyata. Untuk pertama kalinya sejak 1940-an, listrik rendah karbon menyumbang lebih dari 40% pembangkitan global pada 2024, dengan energi terbarukan mencapai rekor 32%. Investasi energi global bahkan menembus USD 3 triliun, di mana sekitar USD 2 triliun dialokasikan untuk teknologi energi bersih.

Namun, dinamika baru muncul setelah Uni Emirat Arab resmi keluar dari OPEC per 1 Mei 2026. Keputusan ini mengakhiri keanggotaan selama hampir enam dekade dan dipicu oleh keinginan meningkatkan produksi minyak tanpa terikat kuota, serta strategi memaksimalkan pendapatan sebelum transisi energi global mencapai puncaknya.

Langkah UEA ini diperkirakan melemahkan kontrol OPEC terhadap harga minyak dunia. Analis energi menilai peningkatan produksi UEA berpotensi menekan harga minyak dalam jangka menengah, sekaligus menambah ketidakpastian pasar di tengah ketegangan geopolitik kawasan Teluk, termasuk konflik yang mempengaruhi jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi peluang sekaligus tantangan. Harga energi global yang fluktuatif dapat berdampak pada subsidi dan stabilitas fiskal. Namun, dengan fondasi ketahanan energi yang kuat dan percepatan transisi menuju energi bersih, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk menjaga stabilitas domestik sekaligus beradaptasi dengan perubahan lanskap energi global.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *