DI TENGAH derasnya arus percakapan publik tentang para pejabat negara, ada satu hal yang sekilas tampak menenangkan: hampir seluruh sentimen yang beredar berada di wilayah netral. Tidak ada gelombang pujian yang membuncah, tidak pula penolakan yang menggema. Seolah-olah publik memilih diam—mengamati, menimbang, tetapi belum benar-benar memutuskan.
Namun di era digital, ketenangan semacam itu sering kali menyimpan dinamika yang lebih dalam. Ia bukan tanda absennya opini, melainkan ruang sunyi di mana persepsi sedang diam-diam dibentuk.
Data monitoring yang dihimpun melalui platform Sosmon.id memperlihatkan skala percakapan yang tidak kecil. Sepanjang 1 Januari hingga 10 April 2026, tercatat 7.042 pemberitaan media online dan 6.992 unggahan media sosial yang membicarakan para menteri dan pejabat publik. Hampir seluruhnya berada dalam spektrum netral, mencapai 99,1 persen dari total percakapan.
“Ketenangan bukan tanda ketiadaan opini, melainkan ruang sunyi di mana persepsi sedang diam-diam dibentuk.”
Angka ini, pada pandangan pertama, tampak seperti stabilitas. Namun jika ditelusuri lebih jauh, ia justru menunjukkan sesuatu yang lebih subtil: reputasi yang belum sepenuhnya terkunci, citra yang masih dalam proses pembentukan, dan publik yang masih menunggu bingkai yang paling meyakinkan.
Network Society
Dalam konteks ini, cara publik melihat para pejabat tidak bisa dilepaskan dari cara realitas itu sendiri dibentuk. Erving Goffman mengingatkan bahwa publik tidak pernah melihat realitas secara utuh. Mereka menangkap potongan-potongan kecil—pernyataan, gestur, kebijakan—yang kemudian dirangkai menjadi makna. Di ruang digital, potongan itu semakin pendek, semakin cepat, dan semakin mudah bergeser.
Ruang digital pun tidak lagi sekadar medium, melainkan lingkungan. Manuel Castells menyebutnya sebagai network society, sebuah tatanan di mana makna dibentuk oleh arus komunikasi yang terus bergerak. Sementara José van Dijck menunjukkan bahwa platform digital bukan ruang netral, melainkan ruang yang dikurasi oleh algoritma—memilih apa yang terlihat, dan apa yang tenggelam.
Di titik inilah, citra para menteri hari ini dibentuk: di antara jaringan yang terus bergerak dan algoritma yang memilih.
Sosmon.id, melalui pendekatan berbasis kecerdasan artifisial dan pemrosesan bahasa alami, menangkap dinamika itu secara konkret. Percakapan publik tidak lagi didominasi media arus utama, melainkan oleh media sosial, dengan TikTok sebagai kontributor terbesar, disusul Instagram dan Facebook.
Dalam ruang seperti ini, citra tidak dibangun melalui narasi panjang, tetapi melalui fragmen-fragmen singkat yang terus diulang.
Three Musketeers
Dari seluruh percakapan itu, tiga figur muncul paling menonjol dalam visibilitas publik: Purbaya Yudhi Sadewa, Prasetyo Hadi, dan Teddy. Mereka tidak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi sebagai representasi dari tiga cara berbeda dalam dibaca oleh publik.

Purbaya tampil dalam bingkai teknokratik. Ia hadir melalui angka, kebijakan fiskal, dan stabilitas ekonomi. Publik melihatnya sebagai figur yang bekerja dalam sistem—tenang, rasional, dan terukur. Dalam banyak percakapan, ia menjadi simbol dari kepemimpinan berbasis kompetensi.
Prasetyo Hadi, di sisi lain, tampil sebagai komunikator kebijakan. Ia tidak hanya bekerja, tetapi menjelaskan. Ia mengisi ruang publik dengan narasi reformasi, menerjemahkan kebijakan menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami. Dalam bingkai ini, citra dibangun bukan hanya dari kerja, tetapi dari kemampuan mengartikulasikan kerja tersebut.
Sementara itu, Teddy muncul dalam bingkai yang lebih operasional dan personal. Ia terlihat bergerak di lapangan, hadir dalam aktivitas nyata, dan dekat dengan dinamika sehari-hari. Publik membaca dirinya sebagai figur yang bekerja secara konkret—tidak selalu dalam bahasa kebijakan, tetapi dalam tindakan yang terlihat.
Ketiga figur ini memperlihatkan bahwa citra positif tidak pernah tunggal. Ia bisa lahir dari rasionalitas, dari komunikasi, maupun dari kehadiran langsung di lapangan. Sejauh ini, tiga sosok ini yang memang lebih berjibaku membantu Presiden, mereka tak ubahnya seperti Three Musketeers.
Namun yang menarik, tidak satu pun dari mereka benar-benar mendominasi secara absolut. Narasi positif yang melekat selalu berjalan berdampingan dengan narasi lain yang lebih kritis.
Isu-isu seperti dugaan korupsi di lingkungan kementerian, pengelolaan kebijakan, hingga pernyataan yang dianggap sensitif tetap muncul dalam percakapan. Jumlahnya kecil, tetapi daya guncangnya besar. Dalam ruang digital, satu isu tidak perlu banyak untuk menjadi signifikan—ia hanya perlu tepat waktu dan tepat format.
David dan Goliath
Di sinilah perspektif Malcolm Gladwell dalam David and Goliath menjadi relevan. Gladwell menunjukkan bahwa yang kecil sering kali menang bukan karena kuat, tetapi karena mampu mengubah cara permainan dijalankan.
Dalam konteks digital, kita melihat fenomena serupa—misalnya dalam apa yang dikenal sebagai fenomena “Aldi’s Berger”. Sebuah entitas yang awalnya kecil, tidak dominan, bahkan nyaris tak diperhitungkan, tiba-tiba muncul dan menguasai perhatian publik. Bukan karena kekuatan struktural, tetapi karena resonansi—kesederhanaan, keaslian, dan kedekatan dengan pengalaman publik.

Fenomena seperti ini memberi pelajaran penting: di era algoritma, kerja yang terlihat “apa adanya”, tidak dibuat-buat, dan terasa autentik justru bisa menjadi pemicu citra yang kuat. Bukan karena ia dirancang untuk viral, tetapi karena ia mudah dipahami dan mudah dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.
Di titik ini, citra positif tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh strategi komunikasi formal. Ia bisa muncul dari sesuatu yang lebih sederhana—kehadiran yang konsisten, kerja yang nyata, dan narasi yang terasa jujur.
Jika dilihat secara keseluruhan, citra para menteri hari ini tidak bergerak dalam lonjakan ekstrem. Ia tidak melonjak tajam ke arah positif, tetapi juga tidak runtuh secara drastis. Ia bergerak perlahan, mengikuti isu yang muncul dan menghilang.
Namun justru di situlah letak kompleksitasnya. Citra tersebut bukan stabil, melainkan cair. Ia terus berubah, mengikuti konteks, platform, dan cara publik membingkai setiap informasi yang mereka terima.
Pada akhirnya, citra positif di era digital bukanlah sesuatu yang bisa dipertahankan hanya dengan kinerja atau komunikasi formal. Ia adalah hasil dari interaksi yang terus berlangsung antara tindakan nyata, representasi digital, dan interpretasi publik.
Dalam ruang yang dipenuhi algoritma, reputasi tidak lagi sepenuhnya dimiliki oleh mereka yang memegang jabatan. Ia dibentuk oleh jutaan pengguna yang memilih apa yang mereka lihat, apa yang mereka bagikan, dan apa yang mereka percaya.
Dan dalam lanskap seperti ini, citra positif bukanlah sesuatu yang permanen. Ia adalah sesuatu yang terus dinegosiasikan—setiap hari, di setiap layar, dalam setiap percakapan yang tampak kecil, tetapi sebenarnya menentukan.
