Mondayreview.com– Konflik antara pemerintah Amerika Serikat (AS) dan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Anthropic semakin memanas setelah kebijakan pemerintah yang menghentikan penggunaan teknologi perusahaan tersebut di lembaga federal. Menurut Kompas.com, raksasa teknologi Microsoft kini turun tangan dengan mengajukan dokumen hukum untuk mendukung gugatan Anthropic terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump.
Microsoft mengajukan dokumen hukum berupa amicus brief di pengadilan federal California. Dokumen ini digunakan oleh pihak ketiga untuk memberikan pandangan kepada hakim mengenai dampak lebih luas suatu perkara. Dalam dokumen tersebut, Microsoft meminta pengadilan menunda keputusan Pentagon yang menetapkan Anthropic sebagai “risiko rantai pasok” (supply chain risk).
Menurut Kompas.com, status “risiko rantai pasok” biasanya diberikan kepada perusahaan yang dinilai berpotensi mengancam keamanan nasional. Jika status ini diberlakukan, Anthropic dapat kehilangan akses kontrak dengan mitra pertahanan dan lembaga pemerintah AS, sehingga berdampak pada proyek teknologi yang sedang berjalan.
Microsoft memiliki kepentingan langsung dalam kasus ini karena baru saja memperluas kerja sama teknologi dengan Anthropic. Kemitraan tersebut mencakup rencana integrasi model AI Claude ke dalam platform Microsoft 365 Copilot serta investasi bernilai miliaran dolar AS dari Microsoft kepada perusahaan AI tersebut.
Dalam dokumen yang diajukan ke pengadilan, Microsoft memperingatkan bahwa keputusan Pentagon dapat menimbulkan dampak besar bagi ekosistem industri AI. Perusahaan itu menilai perubahan kebijakan secara mendadak dapat mengganggu proyek teknologi yang sedang berjalan, termasuk kerja sama dengan kontraktor pemerintah yang menggunakan teknologi Anthropic.
Ketegangan ini bermula ketika pemerintah AS memerintahkan penghentian penggunaan teknologi Anthropic setelah negosiasi dengan Pentagon terkait batasan keamanan AI menemui kebuntuan. Pemerintah disebut meminta akses yang lebih luas terhadap model AI perusahaan tersebut untuk kebutuhan militer, termasuk pengawasan dan pengembangan sistem senjata otonom.
Namun CEO Anthropic, Dario Amodei, menolak permintaan tersebut dengan alasan etika dan keselamatan teknologi. Ia menyatakan perusahaan tidak dapat menyetujui penggunaan AI untuk pengawasan massal domestik atau pengembangan senjata otonom tanpa kendali manusia.
Anthropic kini meminta pengadilan membatalkan penetapan status “risiko rantai pasok” dari Pentagon. Menurut Kompas.com, putusan pengadilan terhadap permintaan penundaan kebijakan tersebut akan menjadi penentu arah konflik antara pemerintah AS dan industri kecerdasan buatan ke depan.
