Kita semua baru saja takjub. Kagum. Menyaksikan bagaimana Spanyol begitu perkasa menguasai panggung sepak bola dunia.
Gaya mainnya rancak, mentalnya juara, kolektivitasnya luar biasa. Spanyol, di mata kita, adalah lambang kesempurnaan sepak bola modern yang anggun.
Namun, di tengah kekaguman itu, ada satu hal yang membuat saya—dan mungkin Anda juga—sering terheran-heran.
Coba Anda perhatikan lembar susunan pemain mereka. Lidah kita pasti mendadak kelu saat membaca nama-nama andalan La Furia Roja. Oyarzabal. Zubimendi. Azpilicueta. Illarramendi. Ada getaran huruf ‘z’ yang tebal. Ada tumpukan huruf ‘x’ dan ‘tx’ yang ganjil.
Ini aneh. Ini bukan bahasa Spanyol yang biasa kita dengar di Madrid. Bukan pula bahasa Catalan yang meliuk-liuk seperti di Barcelona.
Itu adalah bahasa Euskara. Bahasanya orang Basque.
Suku bangsa yang tinggal di pesisir utara Spanyol, berbatasan dengan Prancis. Di sana, di balik megahnya pegunungan Cantabria yang hijau dan curam, tersimpan sebuah misteri sosiologi terbesar di Eropa. Sebuah bangsa yang otentiknya minta ampun. Dan kini, anak-anak dari suku gunung inilah yang justru menjadi jantung, otot, dan penentu kejayaan Timnas Spanyol.
Keunikan pertama jelas dari namanya yang membuat kita heran tadi. Bagi orang Basque, nama bukan sekadar identitas di KTP. Nama adalah alamat rumah. Nama adalah sejarah keluarga.
Ketika saya mempelajari struktur bahasa mereka, saya takjub. Nama Oyarzabal itu, kalau dibedah, artinya hutan yang luas. Zubimendi artinya jembatan di atas gunung. Hampir semua nama belakang orang Basque merujuk pada topografi, alam, atau posisi rumah leluhur mereka di desa.
Jadi, ketika seorang pemain menyebutkan namanya, dia sebenarnya sedang memberi tahu dunia dari gunung mana leluhurnya berasal. Otentik. Tidak ada duanya.
Mengapa nama dan budaya mereka bisa seotentik itu di tengah gempuran dunia modern?
Inilah fakta sejarah yang membuat saya geleng-geleng kepala: mereka tidak pernah benar-benar dijajah oleh Kekaisaran Romawi.
Bayangkan. Dua ribu tahun lalu, Romawi adalah raksasa dunia.
Mereka melindas seluruh Eropa. Mereka menaklukkan Prancis, menjajah tanah Inggris, dan menguasai hampir seluruh Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal hari ini).
Tapi begitu legiun tempur Romawi sampai di kaki pegunungan utara ini, mereka membentur tembok tebal. Bukan tembok batu, melainkan tembok manusia berkulit keras.
Orang Romawi, yang terkenal pintar itu, akhirnya memilih berdamai daripada habis dikeroyok orang gunung. Romawi hanya membangun beberapa pos dagang di pesisir, tapi tidak pernah bisa mendikte interior kebudayaan Basque.
Akibatnya luar biasa bagi sejarah modern. Ketika seluruh bahasa di Eropa Barat runtuh dan berasimilasi menjadi bahasa Latin—yang kemudian melahirkan bahasa Spanyol, Prancis, Italia, dan Portugis—bahasa Euskara milik orang Basque tetap tegak berdiri.
Bahasa ini adalah language isolate. Bahasa paling kuno di Eropa yang tidak punya “saudara kandung” dengan bahasa mana pun di bumi. Anggap saja mereka adalah pulau bahasa di tengah samudra Latin.
Ketangguhan sejarah ini membentuk struktur sosiologi yang sangat menarik di era modern. Suku yang tak pernah takluk ini tidak mengenal konsep “pahlawan tunggal”. Mereka tidak mendewakan satu orang.
Di Basque, ada institusi sosial informal yang namanya Cuadrilla. Ini luar biasa. Sejak anak-anak berumur lima tahun, mereka sudah dimasukkan ke dalam kelompok pertemanan ini. Anggotanya melintas kelas sosial. Anak buruh pabrik, anak direktur bank, anak nelayan, berkumpul di satu Cuadrilla.
Kelompok ini menempel seumur hidup. Mereka mendaki gunung bersama tiap akhir pekan. Mereka makan bersama. Mereka saling membantu kalau ada yang kesusahan ekonomi.
Budaya komunal ini membuat manusia Basque memiliki loyalitas kelompok yang luar biasa tinggi. Mereka tidak percaya pada kehebatan individu. Bagi mereka, yang hebat itu adalah kebersamaan.
Maka jangan heran kalau Anda melihat etos kerja mereka hari ini. Baik di pabrik-pabrik industri maju di Bilbao, di dapur-dapur restoran terbaik dunia di San Sebastian, hingga saat mereka memakai jersi Timnas Spanyol. Mereka bermain seperti mesin yang padu. Kolektif. Bertenaga.
Ditambah lagi, mereka punya tradisi Herri Kirolak—olahraga tradisional yang aneh tapi nyata. Olahraganya bukan balapan lari, tapi lomba memotong batang pohon raksasa secepat mungkin (Aizkolaritza) atau mengangkat batu bulat seberat ratusan kilogram ke pundak (Harrijasotzaileak). Ini adalah olahraga yang lahir dari keringat para penebang kayu dan petani gunung.
Dari sanalah fisik kuat dan stamina tanpa batas itu terbentuk. Gen manusia gunung yang tangguh, yang berabad-abad lalu membuat ciut nyali para jenderal Romawi, kini mengalir dalam darah generasi mudanya.
Saat kita mengagumi trofi-trofi yang diangkat oleh Spanyol, sejatinya kita sedang melihat kemenangan sebuah filosofi. Mereka adalah contoh nyata bagaimana sebuah bangsa bisa merawat masa lalu dengan sangat fanatik, tetapi tetap menjadi yang terdepan dalam menyongsong modernitas dunia.
Menatap kejayaan Spanyol hari ini, kita seperti melihat sebuah pelajaran penting: bahwa di balik megahnya prestasi, ada akar budaya kuno bernama Euskara yang tetap kokoh berdiri, tak tergusur zaman, tak lekang oleh sejarah.
Misteri suku gunung ini nampaknya masih akan terus membuat dunia terkesima, untuk waktu yang sangat lama.
