Ekonomi Tumbuh, Waspada Utang Konsumsi Meningkat

Mondayreview.com – Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang menggembirakan di tengah tekanan global, namun kekhawatiran muncul terkait sumber pendanaan konsumsi masyarakat yang menjadi penopang utama pertumbuhan tersebut. Sejumlah kalangan menduga bahwa konsumsi kini semakin ditopang oleh pinjaman, alih-alih pendapatan riil masyarakat.

Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) mencatat total saldo pinjaman yang mencakup pinjaman daring (pindar), kartu kredit, dan paylater telah mencapai Rp 160,7 triliun per Mei 2026. Angka ini melonjak signifikan sebesar 26,4 persen secara tahunan, memicu kewaspadaan terhadap mesin pertumbuhan ekonomi yang berpotensi rapuh.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya memastikan ekonomi tumbuh mencapai 5,4 persen, menepis kekhawatiran pelambatan. ”Data mengatakan ekonomi tidak melambat, tumbuh hingga 5,4 persen. Kemarin (triwulan pertama) di angka 5,61 persen. Artinya Indonesia bisa mempertahankan ekonomi meski situasi global melambat,” kata Airlangga seusai pembukaan Rakerkornas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (4/8/2026).

Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Agustus 2026 turut mengumumkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen secara tahunan (year on year). Kendati demikian, proporsi konsumsi rumah tangga masih menyumbang 53 persen hingga 54 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, menjadikannya variabel penentu yang krusial.

Porsi terbesar pinjaman berasal dari pindar dengan saldo Rp 103,7 triliun, atau sekitar 54,3 persen dari total gabungan ketiga pembiayaan tersebut. Lebih lanjut, pembiayaan paylater menunjukkan pertumbuhan tertinggi mencapai 42,04 persen secara tahunan, mengindikasikan pergeseran signifikan dalam pola konsumsi masyarakat yang bergantung pada fasilitas kredit.

Kewaspadaan mendalam diperlukan jika pinjaman, yang seharusnya untuk tujuan produktif, kini digunakan untuk menutup biaya konsumsi sehari-hari. Situasi ini mengancam fundamental ekonomi karena mesin pertumbuhan yang bertumpu pada konsumsi dapat berdiri di atas fondasi yang sangat rapuh dan berbahaya.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *