SAYA tiba di Masohi sekitar pukul 11 siang. Matahari Maluku sedang lucu-lucunya. Terik. Tapi bukan panas itu yang membuat saya tertegun.
Ada pemandangan tidak biasa.
Sepanjang jalan, dari pelabuhan sampai jauh ke arah kaki Gunung Binaiya, langit Masohi penuh warna. Bukan pelangi. Itu bendera. Ratusan. Mungkin ribuan. Semua ukuran ada. Dari yang sekecil telapak tangan sampai yang lebarnya menutupi separuh badan jalan.
Itu bendera negara-negara peserta Piala Dunia.
Ada Oranje Belanda yang dominan. Ada kuning-biru Brasil. Ada langit-putih Argentina. Semua berkibar di depan rumah warga. Diikat di tiang-tiang bambu yang tinggi menjulang. Melampaui tinggi pohon kelapa.
Ini bukan di Eropa. Ini di Pulau Seram. Tapi gairahnya melampaui benua.
Saya teringat Tulehu. Desa yang dijuluki Kampung Sepak Bola. Di sana, bayi yang baru lahir tidak hanya diajak melihat dunia, tapi kakinya harus menyentuh rumput lapangan. Ritual “Injak Rumput”. Seolah-olah sejak napas pertama, takdir mereka sudah digariskan: jadi pemain bola.
Di Masohi, saya melihat bibit-bibit itu berserakan.
Anak-anak bermain bola di mana saja. Di pasir pantai yang panas, di bahu jalan yang berdebu, sampai di lapangan desa yang rumputnya kering. Mereka tidak butuh sepatu mengkilap. Tanpa alas kaki pun jadi. Kelincahannya luar biasa. Otot kaki mereka kencang. Mungkin karena terbiasa lari di atas pasir yang berat.
Sepak bola di sini bukan sekadar olahraga. Ini agama kedua. Ini harga diri.
Saya sempat bertanya pada seorang warga. Mengapa fanatismenya sampai segila ini? Jawabannya sederhana tapi dalam: “Sepak bola itu pemersatu kami, Pak.”
Mereka punya tradisi unik. Kalau tim kesayangan menang, Masohi akan “pecah”. Akan ada pawai. Ribuan motor akan turun ke jalan. Konvoi tanpa henti. Bendera raksasa dikerek keliling kota. Suaranya bising, tapi wajah-wajahnya penuh tawa.
Bahkan, legenda dunia seperti Juan Pablo Sorin pernah mengunggah video konvoi fans Argentina di Maluku. Dunia saja heran. Mengapa di pulau kecil di Indonesia timur ini, orang bisa menangis dan tertawa hanya karena sebuah bola yang masuk ke gawang di benua lain?
Jawabannya mungkin ada pada sejarah. Maluku punya ikatan emosional yang panjang dengan Belanda. Banyak keluarga mereka di sana. Maka jangan heran kalau “Oranje” adalah warna wajib di sini. Tapi Brasil dan Argentina punya tempat sendiri. Mereka memuja teknik. Mereka memuja keindahan.
Perjalanan saya berlanjut ke arah Gunung Binaiya. Makin jauh masuk ke pedalaman, bendera itu tidak berkurang. Malah makin kreatif. Ada gang yang seluruh temboknya dicat bendera peserta piala dunia.
Inilah Maluku. Tanah yang melahirkan Ramdani Lestaluhu, Rizky Pellu, hingga Abduh Lestaluhu. Tanah yang tidak pernah berhenti “bertelur” pemain timnas.
Melihat anak-anak itu menendang bola di pinggir jalan, saya merasa masa depan sepak bola kita tidak akan pernah kekurangan stok nyali. Mereka punya bakat alam yang keras seperti karang, tapi lembut saat mengolah bola.
Saya harus segera melanjutkan perjalanan. Menuju puncak Binaiya. Tapi bayangan bendera-bendera yang berkibar di Masohi itu tidak hilang.
Sepak bola memang gila. Dan di Maluku, kegilaan itu terasa sangat indah.
