Mondayreview.com– Transformasi digital memasuki fase baru ketika Artificial Intelligence (AI) tidak lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu percakapan, tetapi mulai bertindak sebagai AI Agent yang dapat memahami tujuan, menyusun langkah kerja, menggunakan berbagai aplikasi, memanggil tools, serta menyelesaikan tugas secara semiotonom.
Berbeda dengan chatbot konvensional yang umumnya menunggu pertanyaan dan memberikan jawaban, AI Agent dirancang untuk mencapai tujuan tertentu. Pengguna dapat memberikan instruksi seperti menganalisis data, mencari informasi, membuat laporan, mengirimkan hasil, atau menjalankan proses bisnis. Agent kemudian dapat memecah tujuan tersebut menjadi sejumlah pekerjaan dan menjalankannya melalui sistem digital yang tersedia.
Perubahan tersebut membuat konsep “copilot” mulai berkembang menjadi “AI worker“. Dalam perusahaan, AI Agent dapat digunakan untuk proses customer service, procurement, keuangan, sumber daya manusia, cybersecurity, pengembangan perangkat lunak hingga pemeriksaan dokumen. Menurut Gartner, agentic AI menjadi salah satu tren teknologi strategis yang akan memengaruhi cara organisasi membangun dan menjalankan proses digital.
Di bidang pendidikan, pendekatan serupa membuka peluang baru. AI Agent dapat membantu guru menyiapkan rancangan pembelajaran, mencari sumber belajar, membuat asesmen, menganalisis hasil pekerjaan murid, memberikan rekomendasi tindak lanjut, hingga membantu administrasi pembelajaran. Namun, agent seharusnya tetap berada dalam kerangka human-in-the-loop agar keputusan pedagogis dan pertanggungjawaban tetap berada pada guru dan institusi pendidikan.
Perubahan terbesar sebenarnya bukan pada kemampuan AI menghasilkan teks, gambar, atau kode, melainkan pada kemampuan AI melakukan tindakan. Ketika sebuah agent memperoleh akses ke database, LMS, aplikasi perkantoran, sistem pembayaran, API, maupun perangkat lunak lainnya, AI dapat berubah dari “mesin jawaban” menjadi “mesin pelaksana”.
Kondisi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru. Setiap AI Agent membutuhkan identitas, hak akses, batas kewenangan, keamanan, pencatatan aktivitas, dan mekanisme audit. Jika agent diberi akses terlalu luas, kesalahan kecil dapat berdampak pada sistem yang lebih besar. Karena itu, perkembangan agentic AI harus berjalan bersamaan dengan AI governance, cybersecurity, data governance, dan pengawasan manusia.
Pada akhirnya, transformasi digital memasuki tahap ketika organisasi tidak hanya bertanya, “Aplikasi apa yang harus kita gunakan?”, tetapi mulai bertanya, “Pekerjaan apa yang dapat dilakukan AI Agent dengan aman dan bertanggung jawab?” Pertanyaan tersebut akan menentukan arah transformasi digital berikutnya, termasuk bagaimana sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah merancang organisasi yang semakin adaptif terhadap AI.
