Mondayreview.com– Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) pada 2026 menunjukkan perubahan penting dari model copilot menuju AI agent yang mampu menjalankan tugas berjangka panjang secara lebih mandiri. Jika copilot selama ini berfungsi sebagai pendamping yang menunggu instruksi manusia, agent mulai diberi tujuan untuk kemudian menyusun langkah, menggunakan berbagai tools, menjalankan tindakan, dan mengevaluasi hasilnya.
Perubahan tersebut mendorong munculnya konsep “AI worker”, yakni sistem AI yang tidak hanya menghasilkan teks atau memberikan jawaban, tetapi mengerjakan rangkaian aktivitas seperti pekerja digital. OpenAI menjelaskan bahwa agent mengubah unit kerja pengetahuan dari interaksi tunggal menjadi tugas yang dapat didelegasikan dalam jangka waktu lebih panjang, termasuk melakukan pemanggilan tools dan beriterasi hingga solusi ditemukan.
Di lingkungan perusahaan, penerapannya mulai mencakup layanan pelanggan, pengembangan perangkat lunak, operasi teknologi informasi, keuangan hingga procurement. Menurut survei Mayfield terhadap 266 CIO, CTO, CAIO, CISO, dan CDO, sebanyak 42 persen responden menyatakan agentic AI sudah digunakan dalam produksi, sementara 72 persen menggunakannya dalam kombinasi tahap produksi dan pilot.
Dalam layanan pelanggan, misalnya, agen dapat menerima persoalan pelanggan, memahami konteks, mencari informasi pada sistem perusahaan, menentukan langkah penyelesaian, kemudian mengeksekusi tindakan tanpa harus memindahkan pekerjaan dari satu sistem ke sistem lainnya. Zendesk pada Mei 2026 bahkan memperkenalkan konsep “Autonomous Service Workforce” yang menempatkan AI agent sebagai pelaksana penyelesaian masalah lintas kanal dan use case.
Transformasi serupa terjadi dalam procurement. Menurut BCG, sebagian besar perusahaan yang mereka survei telah melakukan pilot atau menerapkan agentic AI dalam procurement teknologi. Namun, tantangan terbesar bukan lagi sekadar teknologi, melainkan penataan ulang proses organisasi, kualitas data, integrasi dengan sistem lama, peningkatan kompetensi, dan governance.
Pada pengembangan perangkat lunak, agen bahkan mulai bergerak dari membantu programmer menjadi pelaksana sebagian siklus pengembangan. Data McKinsey yang dirilis Agustus 2026 menunjukkan 40 persen responden dari perusahaan besar dengan pendapatan lebih dari US$1 miliar melaporkan sedang meningkatkan penggunaan AI agent. Sekitar 20 persen organisasi juga sudah melakukan scaling terhadap agentic coding tools, sementara 32 persen responden menyebut perusahaannya memilih membangun sendiri perangkat lunak atau fitur yang sebelumnya mungkin dibeli dari vendor.
Perubahan paling besar terjadi ketika beberapa agent mulai bekerja sebagai sebuah workflow. Google Cloud melihat 2026 sebagai fase ketika perusahaan mulai menghubungkan sejumlah agent sesuai kebutuhan sehingga mereka dapat berkolaborasi, berkoordinasi, dan menjalankan proses kompleks dari awal hingga akhir. Dengan model ini, AI tidak lagi berdiri sebagai aplikasi tambahan, tetapi menjadi lapisan eksekusi di dalam proses bisnis.
Namun, semakin besar otonomi AI, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengawasan. Perusahaan harus memastikan setiap agent memiliki batas kewenangan, akses data yang tepat, mekanisme audit, serta kemampuan untuk menghentikan atau mengoreksi tindakan yang keliru. Menurut IBM, tujuh dari 10 eksekutif yang disurvei menyatakan keterbatasan governance AI yang ada justru memperlambat transformasi agentic AI.
Dengan demikian, persaingan Agentic AI tidak lagi hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki model paling pintar. Pertarungan berikutnya adalah siapa yang mampu membangun sistem yang dapat menghubungkan AI dengan data, aplikasi, workflow dan aturan bisnis secara aman. Pergeseran dari “AI yang membantu manusia” menuju “AI yang menjalankan pekerjaan” sekaligus menjadi salah satu perubahan paling signifikan dalam dunia kerja digital 2026.
