Anak Butuh AI atau Lebih Banyak Interaksi dengan Manusia?

Mondayreview.com– Perdebatan mengenai penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan anak kembali menguat. Sejumlah pendidik dan akademisi mempertanyakan apakah semakin banyak teknologi benar-benar membuat pembelajaran semakin baik, terutama ketika interaksi dengan guru, teman sebaya, keluarga, dan lingkungan sosial merupakan bagian penting dari perkembangan anak. Perdebatan ini mengemuka di tengah semakin cepatnya adopsi AI dalam pendidikan global.

Menurut The Guardian, sejumlah akademisi menanggapi gagasan bahwa AI perlu semakin diterima dalam pendidikan dengan menekankan pentingnya pengalaman belajar yang melibatkan manusia secara langsung. Mereka menilai kemampuan AI menghasilkan materi kreatif dan memberikan pembelajaran yang dipersonalisasi tidak otomatis dapat menggantikan hubungan sosial, kreativitas, dan pengalaman bersama yang terbentuk melalui interaksi manusia.

Perdebatan tersebut muncul ketika AI justru mulai mengambil peran yang semakin besar dalam proses pembelajaran. Di Macquarie University, Australia, misalnya, chatbot AI digunakan dalam pembelajaran dua mata kuliah psikologi wajib. Sistem tersebut dirancang untuk memberikan pertanyaan dan membimbing mahasiswa melalui latihan berbasis skenario. Universitas menegaskan bahwa aktivitas AI tersebut hanya menjadi pelengkap pembelajaran utama.

Di tingkat global, UNESCO juga melihat persoalan ini sebagai bagian dari perubahan besar pendidikan. Dalam Digital Learning Week 2026 di Paris pada 8-11 September, UNESCO membahas bagaimana AI tutor, agentic AI, dan konten sintetis mengubah cara pengetahuan diproduksi dan divalidasi. Lebih dari 25 menteri dan perwakilan pemerintah kemudian menyerukan agar pendidikan tetap dipertahankan sebagai hak asasi dan barang publik di era AI.

Yang menjadi perhatian bukan semata-mata keberadaan AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan. AI dapat membantu guru memberikan umpan balik, menyediakan tutor personal, mendukung siswa dengan kebutuhan khusus, dan memperluas akses terhadap sumber belajar. UNESCO bahkan baru menerbitkan kajian mengenai pemanfaatan AI dan teknologi informasi untuk mendukung siswa dengan autisme, ADHD, dan kesulitan belajar.

Namun, kemampuan teknologi tidak boleh membuat sekolah mengurangi ruang bagi percakapan, kerja kelompok, permainan, eksperimen, membaca, menulis, dan hubungan langsung antara guru dengan siswa. UNESCO dalam penghargaan ICT in Education 2026 bahkan menyoroti pentingnya penggunaan teknologi yang tetap mendorong berpikir kritis, kreativitas, imajinasi, dan proses penalaran manusia.

Karena itu, pertanyaan penting bagi sekolah bukan “AI atau manusia?”, melainkan “bagian mana yang sebaiknya dibantu AI dan bagian mana yang harus tetap dilakukan manusia?” AI dapat menjadi copilot untuk memperkuat pembelajaran, tetapi guru tetap memiliki peran dalam membangun karakter, memberikan konteks, membaca kondisi emosional siswa, membangun hubungan sosial, dan memastikan proses belajar berlangsung secara bermakna.

Pada akhirnya, pendidikan di era AI membutuhkan keseimbangan baru. Anak perlu memahami teknologi karena AI akan menjadi bagian dari kehidupan mereka, tetapi mereka juga membutuhkan pengalaman menjadi manusia: berbicara dengan orang lain, bekerja bersama, berempati, berdebat, mencipta, gagal, mencoba kembali, dan mengambil keputusan. Transformasi digital pendidikan akan berhasil bukan ketika semakin banyak aktivitas dipindahkan kepada mesin, melainkan ketika teknologi membantu manusia menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *