Jangkar Hidup Dony Oskaria

Mondayreview.com – Cerita kecil Dony Oskaria menarik untuk diulik dari sudut yang paling sunyi: sebuah nagari tanpa listrik di kaki Gunung Marapi. Namanya Tanjung Alam. Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Disanalah, puluhan tahun lalu, seorang anak laki-laki tumbuh dalam kegelapan malam, tanpa pernah tahu bahwa kelak namanya akan tertulis di lembaran penting negara.

Bayangkan anak zaman sekarang. Umur enam tahun sudah pusing les ini-itu. Dony tidak. Umur delapan tahun dia baru bisa mengendus bau bangku sekolah dasar. Kenapa terlambat? Bukan karena malas. Bukan pula karena orang tuanya tidak peduli.

Ini soal tradisi fisik yang kaku. Zaman itu, syarat masuk SD di kampungnya unik: tangan kanan harus dilingkarkan di atas kepala. Kalau ujung jari bisa menyentuh telinga kiri, barulah dianggap cukup umur. Tubuh Dony kecil rupanya kurang tinggi. Jari-jarinya belum sampai. Maka, dia harus rela menunggu satu tahun lagi di ladang, bermain dengan tanah dan sepi.

Tapi otak Dony tidak bisa menunggu. Begitu masuk sekolah, ledakan kecerdasannya tak tertahankan. Dia selalu juara satu. Saban tahun. Otak anak kampung tanpa listrik ini ternyata secerah lampu petromaks.

Merantau

Orang tuanya—yang hidup pas-pasan dari kerja serabutan—terperangah. Mereka sadar, anak ini punya “sesuatu”. Sesuatu yang tidak boleh mati di dalam gelapnya malam Tanjung Alam. Maka, lahirlah sebuah keputusan besar yang sangat khas orang Minang: mendidik anak dengan melepasnya. Merantau.

Umur Dony baru kelas 5 SD ketika harus mengemas baju. Meninggalkan dekapan ibu. Pindah ke Kota Padang demi sekolah yang lebih baik. Tidak berhenti di sana. Lulus SD, dia kembali “dibuang” lebih jauh. Ke Jakarta. Kota yang kejam bagi yang tidak punya uang.

Di Jakarta, rumah mereka bukan paviliun mentereng. Orang tuanya menyewa sebuah garasi mobil di kawasan Ciledug. Ya, garasi. Di sanalah Dony tidur, belajar, dan merajut mimpi. Di tempat mobil biasanya diparkir, masa depan seorang Chief Operating Officer [COO] Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara [Danantara] ini justru sedang disetir.

Orang tuanya tidak bisa mewariskan sepeser pun saham. Mereka tidak punya tanah untuk dibagi. Namun, mereka menanamkan satu doktrin yang membakar dada Dony: “Kita ini orang miskin. Kita tidak punya warisan harta. Maka, sekolah adalah satu-satunya senjata kita untuk mengubah nasib.”

Pendidikan di mata orang tua Dony bukan sekadar angka di rapor. Pendidikan adalah harga diri. Pendidikan adalah martabat untuk keluar dari kubangan kemiskinan.

Didikan keras dan mandiri inilah yang membentuk mental “badak” dalam diri Dony. Ketika kuliah di Universitas Padjadjaran, uang kiriman tentu saja cekak. Di sinilah mental garasi Ciledug-nya keluar. Dony tidak gengsi. Dia butuh uang untuk bertahan hidup dan kuliah.

Maka, apa saja dikerjakan. Dony pernah menjadi buruh kasar yang memanjat jembatan tol malam-malam. Tugasnya? Memasang baliho iklan. Angin kencang dan taruhan nyawa di atas jalan tol adalah menu hariannya. Dia juga mengambil sif sebagai petugas call center, melayani keluhan orang lewat telepon dengan suara yang harus selalu ramah, meski perut mungkin sedang keroncongan.

Anak yang dulu telat masuk SD karena tangan tidak sampai ke telinga, kini tangannya sudah mampu meraih apa saja. Mental kerja keras itu membawanya bertemu dengan jajaran mentor papan atas, termasuk si “Anak Singkong” Chairul Tanjung. Dari petugas pelayanan pelanggan, Dony melesat menjadi CEO di berbagai perusahaan raksasa CT Corp, hingga akhirnya dipercaya mengurus korporasi negara.

Kisah masa kecil Dony adalah monumen pengingat. Bahwa keterbatasan fasilitas bukanlah vonis mati bagi masa depan. Gelapnya kampung tanpa listrik justru membuat mata batinnya lebih awas melihat peluang.

Pola didik orang tuanya membuktikan satu hal: anak yang terlalu dimanja di dalam kamar ber-AC belum tentu sekuat anak yang ditempa di dalam garasi.

Kini, anak kampung itu sudah duduk di kursi terhormat kementerian. Tapi saya yakin, di dalam kepala Dony yang sekarang penuh dengan angka-angka triliunan rupiah, memori tentang dinginnya angin jembatan tol dan gelapnya Tanjung Alam tidak akan pernah hilang. Itulah jangkar hidupnya.

Eagle Parenting

Kisah masa kecil Dony Oskaria mematahkan mitos bahwa modal utama mendidik anak sukses adalah uang. Lahir di pelosok Tanjung Alam, Sumatra Barat, Dony tumbuh di rumah tanpa listrik dari keluarga yang hidup pas-pasan. Namun, orang tuanya memiliki visi yang luar biasa. 

Saat Dony baru kelas 5 SD, mereka mengambil keputusan emosional yang sangat berani: melepas putra mereka merantau sendirian ke Kota Padang, lalu ke Jakarta saat SMP, demi sekolah yang lebih baik.

Langkah berani orang tua Dony ini merupakan penerapan nyata dari “Pola Asuh Anak Elang” (Eagle Parenting). Layaknya induk elang yang sengaja mendorong anaknya keluar dari kenyamanan sarang di tebing tinggi agar mau mengepakkan sayap, mereka melatih Dony berdiri di atas kaki sendiri sejak dini. Melalui life hack ini, menjauhkan anak dari zona nyaman keluarga di waktu yang tepat justru memicu kemandirian ekstrem. Karena harus mengurus hidupnya sendiri sejak kecil, mental Dony terlatih untuk tidak manja, cepat beradaptasi, dan tangguh menghadapi masalah.

Selain itu, mereka selalu menanamkan keyakinan bahwa hanya pendidikan yang bisa mengubah nasib. Keterbatasan ekonomi tidak dianggap sebagai nasib sial, melainkan bahan bakar untuk belajar lebih keras. 

Pola asuh anak elang ini membentuk apa yang disebut para ahli sebagai Grit atau daya juang jangka panjang. Daya juang inilah yang terbukti jauh lebih penting daripada nilai IQ tinggi untuk kesuksesan masa depan. Kisah ini mengajarkan kita bahwa hadiah terbaik untuk anak bukanlah fasilitas yang serba ada, melainkan keberanian untuk melatih mereka terbang mandiri.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *