Mendidih di Ninivala

Airnya biru. Biru sekali. Namanya Ninivala.

Letaknya di perut Pulau Seram. Maluku Tengah. Untuk ke sana, fisik harus kuat. Mental juga harus seperti baja. 

Dari Amahai saja tiga jam. Dari Tehoru masih satu setengah jam lagi. Mendaki. Menanjak. Membelah hutan yang rimbunnya minta ampun.

Tapi begitu sampai di Desa Piliana, lelah itu seperti hilang. Menguap.

Di gerbang masuk, saya bertemu penjaganya. Orang-orang Nahulu. Penampilan mereka khas: kain merah terikat di kepala. Gagah. Mereka adalah penjaga adat yang teguh. Menjaga pintu masuk menuju surga yang tersembunyi itu.

Tiketnya? Hanya Rp 10 ribu. Terlalu murah untuk sebuah keajaiban alam.

Saya turun ke bawah. Mendekat ke air. Di sana, saya melihat fenomena aneh. Ada gelembung-gelembung udara kecil yang muncul dari dasar danau. Dari sela-sela akar pohon purba. Persis air mendidih. Banyak sekali.

Refleks, saya ingin menjauh. Takut panas. Tapi orang lokal hanya tersenyum. Saya coba celupkan tangan. Nyesss!

Ternyata dingin. Sangat dingin.

Itu bukan uap panas. Itu napas bumi. Mata air yang keluar dengan tekanan dari bawah tanah. Menciptakan pemandangan yang magis. Jernihnya luar biasa. Segar sekali.

Masyarakat menyebutnya “Kali Jodoh”. Mitosnya, siapa yang mandi di situ, urusan hatinya bakal dimudahkan. Entah benar atau tidak. Tapi suasananya memang romantis. Menenangkan.

Saking asyiknya menikmati Ninivala, ada kejadian lucu. Sepatu kawan saya hanyut sebelah. Ditelan arus, hilang di sela akar. Dia harus pulang ke Jakarta hanya dengan sebelah sepatu.

Orang-orang di Piliana bilang: itu tanda. Kalau ada yang tertinggal, artinya sang pemilik harus kembali lagi. Ninivala seperti tidak mau dilepaskan begitu saja. Ia ingin kita pulang untuk kedua kalinya.

Bagi saya, Ninivala bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah bukti betapa kayanya pedalaman Maluku. Air yang mendidih tapi dingin. Keindahan yang tersembunyi di balik jalan terjal.

Siapa pun yang pernah ke sana, pasti setuju: Maluku itu bukan cuma soal laut. Di tengah hutannya pun, ada permata yang biru sekali.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *