Bank Indonesia (BI) memproyeksikan inflasi Indonesia pada tahun 2026 akan tetap terkendali, berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%. Meskipun mencermati sejumlah risiko, lembaga moneter ini optimis target inflasi nasional sebesar 2,5% dengan deviasi ±1% atau rentang 1,5%-3,5% dapat tercapai.
Optimisme tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan moneter BI, sinergi yang kuat antara Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) dengan pemerintah, serta penguatan program ketahanan pangan nasional yang terus digalakkan.
BI menegaskan bahwa inflasi inti tetap terjaga, sejalan dengan ekspektasi inflasi yang terkendali dengan baik. Hal ini juga didukung oleh nilai tukar rupiah yang relatif stabil serta kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.
Inflasi kelompok _volatile food_ juga diperkirakan akan tetap terkendali. Strategi utama untuk mencapai tujuan ini adalah melalui penguatan pasokan pangan yang berkelanjutan dan koordinasi kebijakan yang efektif dengan pemerintah daerah di seluruh Indonesia.
Namun, BI tetap mencermati beberapa potensi risiko yang dapat memicu tekanan inflasi ke depan. Faktor-faktor tersebut meliputi dinamika harga pangan yang sensitif terhadap kondisi cuaca, perkembangan harga energi di pasar global, serta ketidakpastian ekonomi dunia yang dapat berdampak pada nilai tukar rupiah dan biaya impor.
Meskipun demikian, berbagai langkah kebijakan yang telah dan akan terus ditempuh diyakini mampu menjaga inflasi tetap berada dalam rentang target yang telah ditetapkan untuk tahun 2026 dan juga berlanjut hingga tahun 2027.
