Perebutan Dominasi Energi Global Memanas, Dunia Beralih ke Era Baru

Mondayreview.com–Istilah “global energy dominance” kini semakin relevan di tengah dinamika geopolitik dan transisi energi dunia. Konsep ini merujuk pada upaya negara-negara besar untuk menguasai sumber dan pasar energi global demi memperkuat pengaruh ekonomi dan politik mereka. Menurut berbagai laporan internasional, persaingan ini kini memasuki fase baru dengan fokus yang semakin besar pada energi terbarukan.

Dominasi energi tidak lagi hanya soal minyak dan gas, tetapi juga penguasaan teknologi masa depan seperti tenaga surya dan angin. Yang paling menonjol adalah Tiongkok, yang saat ini memimpin pembangunan infrastruktur energi hijau global. Bahkan, kapasitas tenaga surya yang dipasang negara tersebut disebut dua kali lipat dibandingkan gabungan beberapa pasar besar lainnya.

Sementara itu, persaingan ini berlangsung secara global dalam dekade transisi energi saat ini, dengan India muncul sebagai pemain baru melalui inisiatif ambisius “One Sun, One World, One Grid” yang menargetkan distribusi energi surya lintas lebih dari 100 negara. Lonjakan kapasitas manufaktur modul surya dunia juga menunjukkan percepatan transisi energi sejak 2022 hingga 2023.

Namun demikian, dominasi energi masih sangat dipengaruhi bahan bakar fosil. Sekitar 80% kebutuhan energi global masih bergantung pada minyak, gas, dan batu bara. Negara seperti Amerika Serikat menjalankan strategi “energy dominance” untuk memperkuat posisi geopolitiknya, sementara blok BRICS+—yang kini mencakup Arab Saudi dan Uni Emirat Arab—menguasai porsi besar produksi minyak dan cadangan gas dunia.

Di sisi lain, negara-negara seperti Rusia dan Arab Saudi tetap menjadi “energy superpower” karena cadangan energi fosilnya yang melimpah. Sementara itu, Tiongkok juga menjadi konsumen energi terbesar dunia, menambah kompleksitas persaingan global.

Tantangan baru muncul dari meningkatnya kebutuhan energi untuk teknologi digital, terutama kecerdasan buatan (AI). Lonjakan permintaan listrik untuk pusat data menciptakan arena baru dalam perebutan energi. Oleh karena itu, banyak negara kini mengejar kedaulatan energi untuk menghindari ketergantungan pada pihak lain, sekaligus menjaga stabilitas nasional di tengah perubahan lanskap energi global yang semakin kompetitif.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *