TIDAK ada garis ilmuwan di keluarga Turing. Sama sekali nol. Ayahnya seorang birokrat tulen yang berdinas di India. Pamannya? Lebih unik lagi: dia hanya terkenal karena menulis buku petunjuk cara memancing ikan. Kakak laki-lakinya kelak menjadi pengacara biasa di London.
Jadi, dari mana datangnya kejeniusan Alan Turing? Mengapa otaknya bisa begitu otonom? Terisolasi dari tradisi keluarganya? Jawabannya ada pada sebuah ketakutan. Ketakutan seorang ibu.
Ketakutan terbesar seorang ibu kelas atas di Inggris zaman dulu adalah satu: anaknya tidak diterima di sekolah elit (Public School). Itu tabu. Bisa bikin malu keluarga.
Ethel Sara Turing mengalami ketakutan itu setiap hari. Dia melihat anak bungsunya, Alan, seperti kehilangan arah. Saat itu umurnya baru sembilan tahun. Sejak balita, Alan dititipkan ke sana-sini di Inggris karena orang tuanya sibuk bekerja di India. Rumah asuhnya dingin. Tidak ada ruang untuk sebuah bakat.
Alan tumbuh menjadi anak yang sangat eksentrik. Dia tidak suka menghafal sastra klasik. Kerjanya hanya membuat eksperimen kimia primitif di kamar. Bau belerangnya minta ampun. Kukunya hitam. Bajunya kotor semua.
Gurunya di sekolah dasar pun angkat tangan. Sifat Alan dianggap sebagai gangguan.
Ethel panik. Anak ini harus diselamatkan agar bisa diterima oleh sistem sosial Inggris. Namun, Ethel sadar sifat Alan tidak bisa ditekan. Bakatnya harus disalurkan.
Suatu hari, Ethel membawa pulang sebuah buku untuk meredam keanehan anaknya. Buku tebal. Judulnya Natural Wonders Every Child Should Know. Penulisnya Edwin Tenney Brewster.
Buku itulah yang mengubah jalan hidup Alan Turing. Gaya penulisan Brewster sangat jenius. Dia tidak memakai istilah dewa. Dia menjelaskan sains lewat analogi sehari-hari yang memikat anak-anak.
Ada satu bab yang membuat Alan kecil terenyak. Bab tentang bagaimana tubuh manusia bekerja. Brewster menulis hal yang radikal bagi anak sekecil Alan: tubuh manusia itu sebenarnya adalah sebuah “mesin”.
Jantung adalah pompa. Paru-paru adalah ventilator. Makanan yang masuk ke mulut adalah bahan bakar untuk menggerakkan seluruh organnya.
Bagi Alan, ini sebuah ledakan di kepalanya.
Sejak hari itu, cara pandangnya terhadap dunia berubah total. Dunia bukan lagi sekadar pemandangan alam. Dunia adalah kumpulan mekanisme. Ada logikanya. Ada polanya. Ada rumusnya.
Kalau tubuh manusia adalah mesin hidup yang bisa berpikir, maka kesimpulannya sederhana: suatu saat, manusia pasti bisa membuat mesin buatan yang juga bisa berpikir.
Benih ide itu tertanam di sana. Di kepala bocah yang kesepian.
Di usia 12 tahun, ia sudah terobsesi memanfaatkan energi alam yang paling efisien untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan fundamental.
Sekolah formal seperti Sherbone School gagal melihat kejeniusan ini. Kepala sekolahnya bahkan sempat menyindir bahwa Alan hanya membuang waktu di sekolah asrama jika hanya ingin menjadi spesialis sains.
Sekolahnya salah besar.
Sains memang begitu. Dia tidak selalu lahir dari kurikulum kaku sekolah elit atau laboratorium megah berbiaya miliaran.
Dia sering kali lahir dari sebuah kamar sepi yang berantakan. Dari seorang anak yang dianggap aneh oleh lingkungannya. Dan dari sebuah buku anak-anak yang tepat, yang jatuh di tangan yang tepat.
Ethel mungkin tidak pernah menduga. Buku yang ia belikan untuk menyelamatkan masa depan sosial anaknya, justru menjadi cetak biru lahirnya era komputer modern.
Dunia hari ini berutang pada buku anak-anak itu.
