SUARA jangkrik di luar rumah terasa begitu bising, namun di dalam kamar nampak sunyi menyengat. Di bawah pendar lampu yang temaram, seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun duduk dengan tegap. Namanya Jensen. Di depannya, sang ibu duduk dengan wajah lelah namun tatapannya sekeras baja.
Di tangan sang ibu, ada sebuah buku tebal berkulit usang. Sebuah kamus bahasa Inggris.
Buku itu perlahan dibuka. Jari sang ibu yang kasar karena kerja seharian mulai menelusuri halaman demi halaman yang penuh dengan barisan huruf asing. Huruf-huruf yang sama sekali tidak dipahami oleh sang ibu. Ia tidak bisa membaca satu patah kata pun bahasa Inggris, apalagi mengucapkannya. Namun, malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, ialah sang guru.
Plok! Jari telunjuk sang ibu berhenti di sebuah kata.
“Ini,” ucap sang ibu dalam bahasa Mandarin yang tegas. “Sebutkan artinya.”
Jensen melihat karakter Mandarin kecil di samping kata asing tersebut. “Future,” ucap Jensen kecil dengan lidah cadelnya. “Artinya masa depan, Ibu.”
Sang ibu tidak tahu apakah pelafalan Jensen benar atau keliru. Baginya, bunyi huruf-huruf itu terdengar seperti mantra asing yang aneh. Namun ia menatap mata anaknya, mencari getaran keraguan. Ketika ia melihat keyakinan di mata Jensen, ia mengangguk pelan.
“Bagus. Kata kedua,” lanjut ibunya, menggeser jarinya ke bawah.
Hari itu berjalan lambat. Jensen sebenarnya sangat lelah. Teman-teman sebayanya sedang bermain di luar, tertawa riang di bawah sinar bulan. Sementara ia harus mendekam di sini, bergulat dengan sepuluh kata acak setiap hari yang dipilih ibunya secara buta.
Pernah suatu kali Jensen memprotes, “Ibu kan tidak bisa bahasa Inggris, untuk apa kita melakukan ini setiap malam?”
Ibunya tidak marah. Ia hanya menutup kamus itu dengan pelan, menatap Jensen dengan begitu dalam, dan berkata, “Ibu memang tidak bisa mengantarmu ke Amerika dengan bahasa Ibu. Tapi buku ini bisa. Jika kamu tidak menghafalnya sekarang, laut yang akan memisahkan kita nanti akan terasa sangat luas dan menakutkan bagi sebatang karamu.”
Sejak malam itu, Jensen tidak pernah mengeluh lagi.
Malam terus larut. Kata demi kata disetor. Explore, Create, Build, Resilient… Kata-kata besar yang belum dipahami maknanya secara mendalam oleh bocah berusia tujuh tahun itu. Jensen hanya tahu ia harus patuh. Ia melihat tangan ibunya yang gemetar menahan kantuk, namun tetap teguh memegang kamus tebal itu demi dirinya.
“Kata kesepuluh,” bisik ibunya, suaranya mulai serak. Jari telunjuknya berhenti di sebuah kata yang diawali huruf ‘I’.
Jensen melihatnya, lalu tersenyum. “Intelligence,” ucapnya lantang. “Artinya kecerdasan.”
Sang ibu menutup kamus usang itu. Ritual malam itu selesai. Ia mengusap rambut hitam Jensen dengan lembut. “Tidurlah. Besok kita cari sepuluh kata lagi.”
Puluhan tahun kemudian, di sebuah panggung megah di Silicon Valley, bocah kecil itu telah berubah menjadi pria dewasa berjaket kulit hitam. Di depannya, ribuan orang bertepuk tangan mengagumi “Kecerdasan Buatan” (AI) paling mutakhir di dunia yang diciptakan oleh perusahaannya.
Jensen Huang berdiri di bawah sorotan lampu panggung yang terang benderang. Namun di dalam benaknya, ia tidak melihat barisan kode komputer yang rumit. Ia justru melihat pendar lampu minyak yang temaram di masa kecilnya, dan bayangan seorang ibu luar biasa yang menunjuk kata “Intelligence” di sebuah kamus tua.
