PISA Ungkap Negara dengan Pendidikan Terbaik Dunia

Mondayreview.com– Sistem pendidikan terbaik di dunia kembali menjadi sorotan setelah BBC World Service membahasnya dalam podcast bertajuk “Which country has the best education in the world?”. Salah satu rujukan utama dalam pembahasan tersebut adalah tes PISA atau Programme for International Student Assessment yang digelar OECD sejak tahun 2000.

Tes PISA mengukur kemampuan siswa usia 15 tahun dalam tiga bidang utama, yakni membaca, matematika, dan sains. Berbeda dari penilaian pendidikan tradisional, OECD memandang data pendidikan dengan pendekatan ekonomi, mirip seperti mengukur inflasi atau produk domestik bruto. Pendekatan ini sempat memicu resistensi di beberapa negara, namun kini menjadi salah satu basis data global yang banyak digunakan untuk membandingkan mutu pendidikan antarnegara.

Dalam peta pendidikan global, negara dan wilayah Asia Timur seperti Singapura, Korea Selatan, dan Hong Kong masih konsisten berada di posisi atas. Di Eropa, Estonia muncul sebagai salah satu bintang baru dengan performa pendidikan yang kuat, sementara Finlandia yang dulu menjadi model pendidikan dunia disebut mengalami penurunan performa.

Sebaliknya, sejumlah negara besar Barat seperti Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat cenderung berada di posisi menengah. Di Amerika Serikat, persoalannya bahkan lebih kompleks karena rata-rata nasional menutupi kesenjangan besar antardaerah. Negara bagian kaya seperti Massachusetts dapat bersaing di papan atas dunia, sedangkan sejumlah wilayah lain mencatat performa jauh lebih rendah.

Sebuah tayangan Podcast di kanal BBC menyoroti bahwa negara dengan performa pendidikan tinggi umumnya memiliki kesamaan: menempatkan kesetaraan sebagai fondasi. Estonia dan Shanghai, misalnya, dinilai berupaya memastikan semua murid mendapatkan standar pendidikan yang baik tanpa terlalu dini memisahkan siswa berdasarkan kemampuan atau latar belakang sosial-ekonomi.

Selain itu, banyak negara berprestasi dalam PISA merupakan negara kecil, ambisius, dan tidak memiliki banyak sumber daya alam. Singapura dan Taiwan menjadi contoh bagaimana keterbatasan geografis justru mendorong investasi besar pada kualitas manusia. Pendidikan dipandang sebagai strategi bertahan hidup sekaligus fondasi ekonomi berbasis pengetahuan.

Faktor guru tetap menjadi salah satu penentu penting dalam keberhasilan pendidikan. Namun, podcast tersebut menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada satu variabel. Bahkan, ukuran kelas kecil tidak selalu menjamin keberhasilan. Beberapa negara Asia Timur memiliki jumlah siswa besar dalam satu kelas, tetapi tetap mampu mencatat hasil tinggi dalam tes PISA.

Di sisi lain, dunia masih menghadapi krisis akses pendidikan. Jutaan anak membutuhkan bantuan pendidikan, terutama di wilayah yang terdampak perang, kemiskinan, korupsi, dan perubahan iklim. Afghanistan juga disorot karena menjadi satu-satunya negara yang melarang anak perempuan di atas usia 12 tahun serta perempuan dewasa mengakses sekolah dan universitas.

Dari sisi gender, anak perempuan secara konsisten unggul dalam kemampuan membaca di hampir seluruh dunia sejak usia dini. Namun, untuk matematika, kesenjangan gender disebut lebih berimbang. Temuan ini menunjukkan bahwa capaian pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesempatan, lingkungan belajar, dan kebijakan yang diterapkan.

Kesimpulan utama dari pembahasan BBC World Service tersebut adalah bahwa sistem pendidikan yang baik bukanlah takdir. Kualitas pendidikan merupakan hasil dari pilihan kebijakan negara, mulai dari alokasi anggaran, kualitas guru, pemerataan akses, hingga keberanian menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan jangka panjang.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *