Connect with us

Hi, what are you looking for?

Perspektif

Menyabung Nyawa Menepis Korona

Tahun Baru 2021 memberi harapan baru. Walau tahun pandemi belum tentu telah berlalu.

Pandemi | Foto: Getty Images

SETELAH mengarungi tekanan dan suramnya pandemi kita belajar tentang banyak hal. Tahun Baru 2021 memberi harapan baru. Walau tahun pandemi belum tentu telah berlalu. Berita baik soal vaksin terhadang berita munculnya varian baru yang lebih cepat menular. Belum jelas benar apakah lebih ganas atau tidak. 

Sebagian orang cuek saja. Entah karena pasrah atau memang nekat. Hari-hari dilalui sebagaimana keadaan normal sebelum pandemi. Bahkan cenderung mengabaikan protokol kesehatan. Toh hidup harus dijalani meski semakin berat. Lapak bangkrut atau kena PHK. Kerja apa saja bertaruh nyawa melawan kelaparan menjadikan alasan kuat untuk ‘nekat’. 

Tentu tak termasuk mereka yang melanggar prokes untuk alasan yang kurang penting setidaknya untuk saat ini. Penelitian di Korea Selatan menunjukkan sekira 34% penularan terjadi dari acara makan bersama. Sebagaimana lazimnya makan bersama memang harus melepas masker. Dan tentu saja yang terpenting bukan makannya tetapi ngobrolnya. 

Manfaat makan bersama tentu saja banyak. Menyambung silaturahim, melepas kerinduan dan kesumpekan, dan merasakan kehangatan keluarga serta sahabat. Tetapi bertemu lebih dari 5 orang dalam ruang atau jarak yang dekat sangat berisiko saat ini. Sehingga semestinya memang dihindari.  

Tak sedikit yang cemas dan dilanda ketakutan. Setiap hari membaca postingan kerabat dan sahabat yang terkena Covid-19. Bahkan beberapa diantara mereka yang tersambar wabah ini wafat entah dalam waktu yang relatif cepat ataupun setelah sekian lama dirawat. Kecemasan yang beralasan meski tak boleh berlebihan. Karena virus corona menyerang kekebalan tubuh yang biasanya akan melemah bersamaan dengan datangnya kecemasan.

Memang sulit untuk tidak cemas. Namun mau tak mau kita harus berusaha mengelolanya. Faktanya korban jiwa telah berguguran. Tak kurang dari 504 orang tenaga kesehatan telah wafat oleh hantaman pandemi ini.  Ketersediaan fasilitas kesehatan untuk pasien Covid di Jakarta sudah mencapai 87% per tanggal 4 Januari 2020. 

Di tengah kecemasan ini ada sebagian orang yang cenderung lari ke teori konspirasi. Menganggap pandemi ini adalah bagian dari bisnis vaksin, misalnya. Industri farmasi dan para globalis yang berada di belakang panggung dan menyusun skenarionya. Dan industri farmasi yang akan diuntungkan oleh keadaan yang penuh dengan ketidakpastian ini. 

Banyak juga yang tetap memegang pendapat sains dan meyakini bahwa ancaman wabah dan virus ini nyata. Terlepas dari adakah unsur perbuatan manusia di awal merebaknya wabah, virus ini terbukti menular dan dapat berakibat fatal pada manusia. Terutama bagi lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. 
Pro dan kontra terjadi. Baik tentang asal-muasal, kebijakan pembatasan sosial, maupun rencana vaksinasi. Hal yang tak mungkin dilarang karena penyakit baru ini memang ‘belum ada ilmunya’. Para ahli terus melakukan riset namun belum mampu menangkal virus. Hal yang sama sebenarnya terjadi pada kasus HIV, ebola, dan sebagainya. Namun Covid-19 ini tak dinyana memiliki kemampuan untuk menular dan menyebar dengan cepat. Sulit dihentikan hingga menjadi pandemi global. 

Di bulan Januari ini terdengar kabar bahwa tim organisasi kesehatan dunia WHO akan bertolak ke Tiongkok untuk meneliti asal muasal virus. Buat masyarakat luas mungkin sudah tak terlalu menjadi perhatian lagi. Namun bila kita cermati, ancaman pandemi akan terus melanda dunia yang semakin terhubung dan sebuah upaya untuk mempelajarinya dari segala sisi menjadi penting maknanya.  

Optimisme yang datang bersamaan dengan hadirnya vaksin sempat meredup kala datang kabar bahwa di Inggris mulai teridentifikasi varian virus Covid yang telah mengalami mutasi dan menjadi lebih cepat menular. Meki belum tentu lebih ganas berbagai negara mulai melakukan pembatasan ketat terhadap arus manusia dari Inggris. 

Di bawah payung persetujuan untuk keadaan darurat, vaksin mulai disuntikkan. Setidaknya di Amerika Serikat, Inggris, dan sebagainya proses vaksinasi sudah mulai berjalan. Ternyata dengan ketersediaan vaksin yang ada proses vaksinasi tak secepat yang diperkirakan. Dengan beragam platform dan hasil efikasinya maka pilihan vaksin ini menjadi salah satu yang diandalkan untuk mencapai herd immunity. 
Bloomberg melaporkan 12,3 juta dosis di 30 negara telah diberikan. Mengirimkan miliaran lagi akan menjadi salah satu tantangan logistik terbesar yang pernah dilakukan. Sementara vaksinasi di AS dimulai 14

Desember dengan petugas kesehatan, dan sejauh ini 4,33 juta dosis telah diberikan, menurut penghitungan antar negara oleh Bloomberg dan data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.
Indonesia masih menunggu persetujuan penggunaan darurat dari Badan Pengelolaan Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan vaksinasi. Hari-hari ini Pemerintah telah melakukan SMS blasting bagi para nakes yang diprioritaskan menjadi penerima vaksin tahap pertama. 

Vaksin bukan satu-satunya penangkal persebaran covid. Pun dibutuhkan waktu yang lama untuk mencapai jumlah penerima vaksin yang signifikan bagi terbentuknya kekebalan kolektif. Namun harapan memang menjadi penanda bagi keberlangsungan kehidupan manusia. 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

Perspektif

Mengejutkan sekaligus membanggakan, film berjudul ‘Autobiography’ akhirnya mewakili Indonesia untuk berkompetisi di Piala Oscar 2024. Mengejutkan, karena meski merupakan karya perdana Makbul Mubarak, namun...

Vidiopedia

Freeport-McMoRan, perusahaan asal Amerika Serikat yang memiliki tambang emas terbesar di dunia, salah satunya di Indonesia. Sejak lama, perusahaan ini jadi sorotan karena masalah...

Ragam

Diantara butir pernyataannya Muhammadiyah menegaskan agar Israel tidak menjadikan perang ini sebagai alasan untuk terus melakukan aneksasi dan agresi ke wilayah Palestina, menghimbau agar...

Perspektif

Perdebatan yang selama ini berkembang menempatkan politik identitas seakan sama dengan identitas politik. Dengan pernyataan ini maka akan ada reaksi dari pendukung Cak Imin...